IHSG Pagi Ini Masih Lesu, Turun 0,36%

mkh, CNBC Indonesia
Jumat, 23/01/2026 09:04 WIB
Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pagi ini, Jumat (23/1/2026). Indeks dibuka naik 0,44% atau 39,31 poin ke level 9.031,49. 

Namun beberapa menit perdagangan awal, penguatan IHSG terpangkas dan akhirnya kembali berada di zona merah. Per pukul 09.04 WIB, indeks turun 0,36%.

Sebanyak 267 saham naik, 238 turun, dan 453 belum bergerak. Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp 1,43 triliun, melibatkan 2,36 miliar saham dalam 168.200 kali transaksi. 


Sentimen pasar keuangan pada akhir pekan ini masih cenderung hati-hati, dipengaruhi oleh kombinasi faktor geopolitik, kebijakan perdagangan AS, serta data ketenagakerjaan AS.

Salah satu katalis positif datang dari keputusan Presiden AS Donald Trump yang menangguhkan rencana penerapan tarif impor baru sebesar 10% terhadap delapan negara Eropa. Tarif tersebut semula dijadwalkan berlaku mulai 1 Februari 2026, dengan potensi kenaikan hingga 25% pada pertengahan tahun.

Penangguhan tarif ini diumumkan setelah adanya kemajuan signifikan dalam pembicaraan antara AS dan NATO, khususnya terkait isu Greenland, dalam diskusi Trump dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, di sela-sela pertemuan World Economic Forum (WEF) di Davos.

Trump menyatakan bahwa kedua pihak telah mencapai kerangka kesepakatan masa depan mengenai Greenland yang dinilai akan menguntungkan AS dan seluruh anggota NATO. Atas dasar pemahaman tersebut, AS memutuskan untuk tidak memberlakukan tarif yang sebelumnya direncanakan.

Adapun delapan negara Eropa yang semula menjadi target tarif adalah Prancis, Jerman, Inggris, Denmark, Swedia, Norwegia, Belanda, dan Finlandia. Sebelumnya, ancaman tarif ini sempat memicu rencana pertemuan darurat Uni Eropa serta diskusi terkait langkah pembalasan.

Di World Economic Forum (WEF), Trump juga menegaskan bahwa AS tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk menguasai Greenland, meskipun tetap menyatakan kepentingan strategis atas wilayah tersebut. Pernyataan ini dipandang pasar sebagai pergeseran sikap yang lebih moderat, sehingga membantu menurunkan premi risiko geopolitik dalam jangka pendek.

Sentimen lain yang juga berpotensi memberi tekanan ke pasar adalah meningkatnya risiko arus dana asing keluar (foreign outflow) apabila MSCI benar-benar menerapkan formula baru perhitungan free float untuk saham-saham di Bursa Efek Indonesia dalam indeks mereka.

Dalam skema terbaru ini, MSCI tidak lagi hanya melihat kepemilikan publik secara administratif, tetapi juga memperhitungkan kualitas likuiditas dan aksesibilitas saham di pasar.

Saham dengan porsi kepemilikan pengendali yang besar, likuiditas rendah, atau kepemilikan publik yang dinilai tidak benar-benar tradable berisiko mengalami penurunan free float adjustment factor.

Dampaknya, bobot saham Indonesia di indeks MSCI dapat tertekan, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar namun dengan struktur kepemilikan yang terkonsentrasi.

Penyesuaian bobot ini berpotensi memicu penjualan teknikal oleh dana pasif dan ETF global yang mereplikasi indeks MSCI, sehingga memperbesar tekanan jual dalam jangka pendek.

Selain itu, sejumlah saham yang mengalami tekanan penjualan beberapa hari ini dinilai ada kaitan-nya dengan rebalancing MSCI edisi Februari mendatang.

Walaupun aturan baru perhitungan free float belum secara resmi diberlakukan, pasar cenderung bergerak lebih dulu dengan mengantisipasi skenario terburuk.

Ekspektasi tersebut membuat pasar mulai "kembali ke realita", bahwa tidak semua saham berkapitalisasi besar secara otomatis layak masuk atau bertahan di indeks populer seperti MSCI, terutama jika struktur kepemilikan, likuiditas, dan investability-nya dinilai kurang memadai.

Akibatnya, saham-saham yang sebelumnya diperdagangkan dengan valuation premium berbasis narasi indeks mulai mengalami normalisasi harga seiring penyesuaian ekspektasi investor.


(mkh/mkh)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Saham Konglomerasi - Perbankan Longsor, IHSG Tinggalkan 9.000