MARKET DATA

Rupiah Menguat, Nilai Tukar Dolar AS Turun ke Rp16.900 Pagi Ini

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
22 January 2026 09:06
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Kamis (22/1/2026).

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp16.900/US$ atau terapresiasi 0,18%. Penguatan ini melanjutkan pergerakan positif sehari sebelumnya, ketika rupiah ditutup menguat 0,09% di posisi Rp16.930/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau relatif stabil di level 98,762, setelah pada perdagangan kemarin ditutup naik tipis 0,12% di posisi 98,761.

Pergerakan rupiah hari ini masih akan dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari eksternal, pasar global cenderung lebih tenang setelah Presiden AS Donald Trump meredakan tensi kebijakan dengan menarik kembali ancaman tarif dan menegaskan tidak akan mengambil Greenland dengan kekuatan.

Pernyataan ini membuat aset berisiko seperti saham kembali diminati, sementara permintaan terhadap aset lindung nilai seperti emas mulai berkurang.

Kondisi "risk-on" seperti ini umumnya memberi ruang bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih stabil. Namun, pelaku pasar masih berhati-hati karena dinamika kebijakan AS dinilai tetap bisa berubah cepat.

Di sisi lain, dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah dinilai belum sepenuhnya hilang.

Head of Macro Economic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman menilai pelemahan rupiah belakangan lebih banyak dipengaruhi faktor domestik, terutama isu independensi Bank Indonesia serta risiko melebarannya twin deficit.

"Salah satunya adalah terkait isu independensi BI dan risiko melebarnya twin deficit," ujarnya.

Menurut Faisal, berlanjutnya perang dagang global berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan, sementara kebijakan pro-pertumbuhan juga dapat meningkatkan defisit fiskal.

(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Menutup Pekan Naik Tipis, Dolar AS Turun ke Rp16.625


Most Popular
Features