Dihantam Luar Dalam, Purbaya & Bos BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Anjlok

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Kamis, 22/01/2026 06:10 WIB
Foto: Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat konferensi pers Hasil Rapat Berkala KSSK IV Tahun 2025 di Jakarta, Senin (3/11/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

‎Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren pelemahan di awal 2026. Bahkan sempat menyentuh level terlemah sepanjang masa.

‎Mengacu data Refinitiv, rupiah berhasil menguat 0,09% dan bertengger di level Rp16.930/US$. Penguatan ini sekaligus mematahkan tren pelemahan rupiah yang terjadi dalam tiga perdagangan beruntun. Namun sepanjang awal 2026, telah melemah 1,3%.

‎Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan alasan dibalik rupiah yang melemah belakangan ini. Apa saja?


1. ‎ Spekulasi Pasar Soal Deputi Gubernur BI

‎Purbaya melihat pelemahan rupiah disebabkan adanya spekulasi mengenai pencalonan Thomas Djiwandono menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia. Thomas sendiri merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto.

‎"Jadi ini mungkin sebagian spekulasi ketika Thomas akan kesana Wow, orang spekulasi dia Independensinya hilang," kata Purbaya di DPR RI dikutip Rabu (21/1/2026).

‎Namun, Purbaya optimis jika rupiah akan kembali menguat karena meyakini ketakutan mengenai independensi BI hanya bersifat spekulatif serta ekonomi RI yang masih kuat ke depan.

‎"Saya pikir nggak akan begitu (independensi BI terganggu). Nanti kalau begitu insaf juga langsung menguat lagi rupiah karena fondasi ekonominya kita akan jaga supaya semakin membaik ke depan," imbuhnya.

2. ‎Kondisi Fiskal Dipantau Investor

‎Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan alasan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS salah satunya karena faktor domestik. Utamanya persepsi pelaku pasar terkait pergantian Deputi Gubernur BI.

‎"Persepsi pasar, ini persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan deputi gubernur, " katanya saat konferensi pers RDG BI pada Rabu (21/1/2026).

‎Perry turut menegaskan bahwa proses pencalonan adalah sesuai undang-undang tata kelola dan tentu saja tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas dan kewenangan bank Indonesia yang tetap profesional dan tata kelola yang kuat.

3. ‎ Kebutuhan Valas Korporat

‎Perry juga menuturkan adanya kebutuhan valuta asing korporasi. Sehingga membuat permintaan dolar meningkat dan memberikan andil terhadap pelemahan rupiah.

‎"Karena juga ada kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi termasuk oleh Pertamina, PLN, maupun juga danantara," katanya.

4. ‎Donald Trump

Perry mengungkapkan faktor global turut mempengaruhi pelemahan rupiah antara lain karena kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat.

5. ‎ Yield Obligasi AS Lebih Menggoda

‎Selain itu, Perry juga mengatakan tingginya US Treasury yield 2 tahun dan 3 tahun.

6. ‎ Fed Rate Kemungkinan Kecil Turun pada 2026

‎Perry melihat kemungkinan penurunan suku bunga The Fed yang mengecil jadi penyebab rupiah melemah belakangan ini.

‎Pasalnya ini turut menyebabkan larinya modal dari negara-negara emerging market.

‎"Menyebabkan dolar menguat dan terjadi aliran modal keluar dari emerging market ke negara maju termasuk Amerika," ucapnya.

‎Perry menyampaikan bahwa berdasarkan data hingga 19 Januari 2026, terjadi net outflow US$1,6 miliar.


(ras/mij)
Saksikan video di bawah ini:

Video: BI Buka Suara Soal Pelemahan Rupiah