Dihantam Luar Dalam, Purbaya & Bos BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Anjlok
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren pelemahan di awal 2026. Bahkan sempat menyentuh level terlemah sepanjang masa.
Mengacu data Refinitiv, rupiah berhasil menguat 0,09% dan bertengger di level Rp16.930/US$. Penguatan ini sekaligus mematahkan tren pelemahan rupiah yang terjadi dalam tiga perdagangan beruntun. Namun sepanjang awal 2026, telah melemah 1,3%.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan alasan dibalik rupiah yang melemah belakangan ini. Apa saja?
1. Spekulasi Pasar Soal Deputi Gubernur BI
Purbaya melihat pelemahan rupiah disebabkan adanya spekulasi mengenai pencalonan Thomas Djiwandono menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia. Thomas sendiri merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto.
"Jadi ini mungkin sebagian spekulasi ketika Thomas akan kesana Wow, orang spekulasi dia Independensinya hilang," kata Purbaya di DPR RI dikutip Rabu (21/1/2026).
Namun, Purbaya optimis jika rupiah akan kembali menguat karena meyakini ketakutan mengenai independensi BI hanya bersifat spekulatif serta ekonomi RI yang masih kuat ke depan.
"Saya pikir nggak akan begitu (independensi BI terganggu). Nanti kalau begitu insaf juga langsung menguat lagi rupiah karena fondasi ekonominya kita akan jaga supaya semakin membaik ke depan," imbuhnya.
2. Kondisi Fiskal Dipantau Investor
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan alasan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS salah satunya karena faktor domestik. Utamanya persepsi pelaku pasar terkait pergantian Deputi Gubernur BI.
"Persepsi pasar, ini persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan deputi gubernur, " katanya saat konferensi pers RDG BI pada Rabu (21/1/2026).
Perry turut menegaskan bahwa proses pencalonan adalah sesuai undang-undang tata kelola dan tentu saja tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas dan kewenangan bank Indonesia yang tetap profesional dan tata kelola yang kuat.
3. Kebutuhan Valas Korporat
Perry juga menuturkan adanya kebutuhan valuta asing korporasi. Sehingga membuat permintaan dolar meningkat dan memberikan andil terhadap pelemahan rupiah.
"Karena juga ada kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi termasuk oleh Pertamina, PLN, maupun juga danantara," katanya.
4. Donald Trump
Perry mengungkapkan faktor global turut mempengaruhi pelemahan rupiah antara lain karena kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat.
5. Yield Obligasi AS Lebih Menggoda
Selain itu, Perry juga mengatakan tingginya US Treasury yield 2 tahun dan 3 tahun.
6. Fed Rate Kemungkinan Kecil Turun pada 2026
Perry melihat kemungkinan penurunan suku bunga The Fed yang mengecil jadi penyebab rupiah melemah belakangan ini.
Pasalnya ini turut menyebabkan larinya modal dari negara-negara emerging market.
"Menyebabkan dolar menguat dan terjadi aliran modal keluar dari emerging market ke negara maju termasuk Amerika," ucapnya.
Perry menyampaikan bahwa berdasarkan data hingga 19 Januari 2026, terjadi net outflow US$1,6 miliar.
(ras/mij)