Dampak Ancaman Tarif Trump, Harga Emas Pecah Rekor Lagi
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas melonjak ke rekor tertinggi seiring pelemahan pasar Asia-Pasifik pada Rabu, (21/1/2026) ketika investor beralih ke aset aman setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam tarif baru terhadap negara-negara yang menolak pemindahan Greenland ke AS.
Melansir CNBC.com, harga emas spot naik lebih dari 1% ke level tertinggi sepanjang masa di US$4.813 atau sekitar Rp81,7 juta per ounce.
Di kawasan Asia, indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,12%, sementara indeks CSI 300 China daratan menguat tipis 0,11%. Di Jepang, indeks Nikkei 225 melemah 1,28% dan Topix turun 1,09%.
Pasar saham Korea Selatan juga bergerak negatif, dengan indeks Kospi turun 1,09% dan Kosdaq anjlok 2,2%. Sementara itu, indeks acuan Australia S&P/ASX 200 terkoreksi 0,34%.
Ancaman Trump disampaikan pada Sabtu lalu, di mana ia menyatakan ekspor dari delapan negara Eropa akan dikenakan tarif 10% mulai 1 Februari dan meningkat menjadi 25% pada 1 Juni jika negosiasi gagal memberikan kendali Greenland kepada AS. Trump menilai wilayah kaya mineral tersebut penting bagi kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat.
Selain itu, Trump mengancam akan mengenakan tarif hingga 200% terhadap anggur dan sampanye Prancis setelah Presiden Emmanuel Macron disebut enggan bergabung dalam inisiatif "Board of Peace" yang diusulkannya. Ia juga mengkritik rencana Inggris untuk menyerahkan kedaulatan Kepulauan Chagos kepada Mauritius, menyebutnya sebagai "tindakan kebodohan besar."
Para pemimpin Eropa menilai ancaman tarif terbaru Trump sebagai tindakan yang tidak dapat diterima dan dilaporkan tengah mempertimbangkan langkah balasan. Prancis disebut mendorong Uni Eropa untuk mengaktifkan instrumen respons ekonomi terkuatnya, yakni Anti-Coercion Instrument.
Di Amerika Serikat, kontrak berjangka saham menguat tipis pada perdagangan awal Asia setelah pasar Wall Street mencatat kinerja terburuk dalam tiga bulan terakhir. Investor tetap bersikap hati-hati di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan risiko perang dagang.
Pada perdagangan sebelumnya, indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 870,74 poin atau 1,76% ke level 48.488,59. Indeks S&P 500 turun 2,06% ke 6.796,86 dan Nasdaq Composite melemah 2,39% ke posisi 22.954,32.
Penurunan tajam tersebut menjadi yang terburuk sejak Oktober bagi ketiga indeks utama Wall Street. Imbal hasil obligasi pemerintah AS melonjak sementara dolar AS melemah, seiring aksi jual aset Amerika akibat meningkatnya kekhawatiran pasar.
(fsd/fsd)