Stok AS Melimpah, Harga Minyak Terkoreksi
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia bergerak melemah pada perdagangan Rabu (21/1/2026) seiring pasar mulai mengalihkan perhatian dari gangguan pasokan Kazakhstan ke potensi kenaikan persediaan minyak mentah Amerika Serikat.
Melansir Refinitiv, pada pukul 10.20 WIB, harga minyak mentah Brent tercatat di level US$64,20 per barel, turun dari posisi penutupan sebelumnya di US$64,92. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada di US$59,80 per barel, lebih rendah dibandingkan perdagangan hari Selasa di US$60,34 per barel.
Pergerakan ini menandai koreksi setelah reli sehari sebelumnya, ketika pasar merespons penghentian sementara produksi minyak di dua ladang utama Kazakhstan, yakni Tengiz dan Korolev. Pada sesi sebelumnya, kontrak Brent sempat melonjak 98 sen atau sekitar 1,53% dan ditutup di US$64,92 per barel.
Gangguan produksi tersebut dipicu masalah distribusi listrik dan berpotensi berlangsung selama 7-10 hari. Namun analis menilai dampaknya bersifat sementara. Analis pasar IG, Tony Sycamore, mengungkapkan bahwa tekanan penurunan harga masih membayangi pasar, terutama dari perkiraan kenaikan stok minyak mentah AS.
Sentimen lain datang dari Amerika Serikat, di mana pasar menanti rilis data persediaan energi. Jajak pendapat awal Reuters menunjukkan persediaan minyak mentah dan bensin AS diperkirakan meningkat pada pekan lalu, sementara stok distilat kemungkinan menurun. Rata-rata analis memperkirakan stok minyak mentah naik sekitar 1,7 juta barel hingga pekan yang berakhir 16 Januari.
Di sisi geopolitik, pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait ambisinya untuk menguasai Greenland turut menambah ketidakpastian pasar. Ancaman tarif terhadap negara-negara Eropa jika tidak tercapai kesepakatan dinilai berisiko menekan pertumbuhan ekonomi global, yang pada akhirnya berdampak pada permintaan energi.
Meski demikian, ketegangan geopolitik belum sepenuhnya hilang dari radar pelaku pasar. Potensi eskalasi hubungan AS-Iran masih menjadi faktor penahan penurunan harga lebih dalam, terutama jika tensi kembali meningkat di Timur Tengah.
CNBCÂ Indonesia
(emb/emb)[Gambas:Video CNBC]