IHSG Tergelincir 0,44% Jelang Pengumuman Suku Bunga BI

Redaksi, CNBC Indonesia
Rabu, 21/01/2026 09:04 WIB
Foto: Pergerakan indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (9/9/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah signifikan pada pagi ini, Selasa (20/1/2026). Indeks dibuka turun 40,27 poin atau 0,44% ke level 9.094,43.

Sebanyak 244 saham naik, 108 turun, dan sisanya belum bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 792,61 miliar, melibatkan 1,15 miliar saham dalam 83,015 kali transaksi.

Adapun kapitalisasi pasar ikut terkerek turun menjadi Rp 16.559 triliun.


Perhatian pasar pada perdagangan hari ini akan tertuju lebih banyak dari sentimen dalam negeri, terutama terkait keputusan BI Rate di tengah posisi rupiah yang menyentuh level All Time Low (ATL).

Sementara itu, dari pasar global sorotan masih tertuju pada harga emas yang kembali cetak rekor, di sisi lain bursa saham AS yang semalam sudah buka lagi setelah libur malah bergejolak.

Pasar kini mengantisipasi ketidakpastian global meningkat setelah muncul ancaman tarif baru dari Presiden Trump serta meningkatnya tekanan di pasar obligasi global.

Bank Indonesia diperkirakan akan mengambil langkah aman dengan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu hari ini.

Pada RDG sebelumnya yang digelar pada 16-17 Desember 2025, BI memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 4,75%, dengan deposit facility 3,75% dan lending facility 5,50%.

Keputusan tersebut menjadi kali ketiga BI menahan suku bunga sejak pemangkasan terakhir pada RDG September 2025. Saat itu, BI memangkas suku bunga 25 basis poin (bps) sebagai bagian dari upaya mendukung momentum pertumbuhan ekonomi domestik.

Adapun untuk RDG Januari 2026 ini, berdasarkan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 lembaga/institusi, seluruhnya kompak memperkirakan BI akan kembali menahan suku bunga di level 4,75%.

Pasar Asia-Pasifik dibuka melemah pada hari Rabu, mencerminkan kerugian semalam di Wall Street setelah Presiden Donald Trump meningkatkan retorika terkait Greenland, mengancam tarif baru pada negara-negara yang menolak pengalihan wilayah Denmark tersebut ke Amerika Serikat.

Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di 26.341, di bawah penutupan terakhir indeks acuan tersebut di 26.487,51.

Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,28%, sementara Topix turun 1,09%. Indeks Kospi Korea Selatan turun 1,09% sementara indeks Kosdaq untuk saham berkapitalisasi kecil turun 2,2%.

Indeks S&P/ASX 200 Australia memulai hari dengan penurunan 0,32%.

Trump mengatakan pada hari Sabtu bahwa ekspor dari delapan negara Eropa akan menghadapi tarif 10% mulai 1 Februari, meningkat menjadi 25% pada 1 Juni jika pembicaraan gagal menghasilkan kendali AS atas Greenland yang kaya mineral.

Ia juga mengancam akan mengenakan tarif 200% pada anggur dan sampanye Prancis, menyusul laporan bahwa Presiden Emmanuel Macron tidak bersedia bergabung dengan "Dewan Perdamaian" yang diusulkannya. Trump selanjutnya mengkritik Inggris, menyebut rencana mereka untuk mentransfer kedaulatan Kepulauan Chagos, yang merupakan rumah bagi pangkalan militer gabungan Inggris-AS, ke Mauritius sebagai "tindakan yang sangat bodoh," dengan menyebut langkah tersebut sebagai pembenaran lebih lanjut untuk mengakuisisi Greenland atas dasar keamanan nasional.

Para pemimpin Eropa menyebut ancaman tarif terbaru Presiden Donald Trump "tidak dapat diterima" dan dilaporkan sedang mempertimbangkan tindakan balasan. Prancis dikatakan mendesak Uni Eropa untuk mengerahkan alat respons ekonomi terkuatnya, yang disebut Instrumen Anti-Koersi.

Kontrak berjangka saham AS naik sedikit pada awal jam perdagangan Asia setelah rata-rata utama mengalami penurunan terburuk dalam tiga bulan.

Semalam di AS, Dow Jones Industrial Average turun 870,74 poin, atau 1,76%, untuk mengakhiri sesi di 48.488,59. S&P 500 turun 2,06% menjadi 6.796,86. Nasdaq Composite merosot 2,39%, ditutup pada 22.954,32. Ini adalah sesi terburuk sejak Oktober untuk ketiga indeks utama tersebut. Imbal hasil obligasi pemerintah AS melonjak dan dolar AS melemah karena ancaman Trump menyebabkan pelarian dari aset AS.


(fsd/fsd)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Menanti IHSG 10.000, Sektor Ini Jadi Incaran Manajer Investasi