MARKET DATA

IHSG Sesi II Menguat 0,64% ke Level 9.133 Ditopang Saham Astra (ASII)

Redaksi,  CNBC Indonesia
19 January 2026 16:48
Pergerakan indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (9/9/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Pergerakan indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (9/9/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini, Senin (19/1/2026). Indeks naik 58,47 poin atau 0,64% ke level 9.133,87 pada penutupan perdagangan.

Sebanyak 377 saham naik, 318 turun, dan 110 sisanya belum bergerak. Nilai transaksi hari ini juga tergolong ramai atau mencapai Rp 35,92 triliun, melibatkan 85,35 miliar saham dalam 3,93 juta kali kali transaksi.

Adapun kapitalisasi pasar ikut terkerek naik menjadi Rp 16.807 atau nyaris setara US$ 1 triliun.

Saham BUMI tercatat masih menjadi saham yang paling ramai di transaksikan. Transaksi di pasar reguler mencapai 4,82 triliun, sedangkan di pasar negosiasi senilai Rp 6,92 triliun. Secara total transaksi di saham BUMI hari ini nyaris mencapai sepertiga transaksi saham di Bursa.

Mayoritas sektor perdagangan bergerak di zona hijau dengan penguatan tertinggi dicatatkan oleh properti dan energi. Sementara itu, koreksi paling dalam dicatatkan oleh sektor kesehatan dan infrastruktur.

Saham-saham milik konglomerat Prajogo Pangestu ramai-ramai menguat pada perdagangan hari ini. Sementara Astra International (ASII) melejit setelah mengumumkan perusahaan siap melakukan aksi pembelian kembali saham perusahaan (buyback) apa bila kondisi pasar berfluktuasi.

Saham ASII hari ini melesat nyaris 5% ke Rp 7.400 per saham dengan sumbangsih 14,3 indeks poin. Secara rinci saham-saham lain yang ikut menjadi penggerak utama kinerja IHSG hari ini termasuk DSSA, VKTR, BRPT dan CUAN.

Pekan ini akan menjadi periode yang sangat menentukan bagi arah pasar keuangan global maupun domestik. Investor dihadapkan pada jadwal rilis data ekonomi yang high impact news.

Datang dari tiga kekuatan ekonomi utama dunia: Amerika Serikat, China, dan Jepang, serta keputusan kebijakan moneter dari dalam negeri.

Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Di tengah ketidakpastian global (China melambat, AS kuat), Bank Indonesia diperkirakan akan mengambil langkah aman dengan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Selasa-Rabu pekan ini.

Meskipun inflasi domestik sedikit terkendali di level 2,92%, BI masih perlu menjaga daya tarik aset keuangan rupiah agar tidak ditinggalkan investor asing. Selisih suku bunga (spread) dengan The Fed harus dijaga.

Jika BI memangkas bunga terlalu cepat saat Dolar AS masih kuat, rupiah berisiko terdepresiasi tajam mengingat rupiah tengah berada di level psikologis menembus Rp 17.000 per US$.

Pasar saat ini juga sedang mencerna divergensi (perbedaan arah) ekonomi yang semakin tajam. Amerika Serikat menunjukkan ketahanan ekonomi yang mengejutkan, sementara China masih bergelut dengan risiko perlambatan struktural.

Di sisi lain, Jepang mulai keluar dari era suku bunga rendah, dan Indonesia memilih langkah pragmatis untuk menjaga stabilitas.

Sementara itu, mayoritas pasar Asia-Pasifik melemah pada perdagangan Senin, (19/1/2025) seiring investor mencermati ketegangan geopolitik terbaru yang melibatkan Amerika Serikat dan Eropa terkait Greenland. Selain itu, pelaku pasar juga menanti rilis sejumlah data ekonomi penting dari China.

Akhir pekan lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan para pemimpin Eropa saling melontarkan pernyataan keras mengenai wilayah Arktik tersebut. Trump bahkan mengancam akan mengenakan tarif terhadap delapan negara Eropa serta menuntut kendali atas Greenland yang merupakan bagian dari Denmark.

Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong tercatat di level 26.640, lebih rendah dibandingkan penutupan terakhir indeks Hang Seng di 26.844,96. Hal ini mengindikasikan potensi pelemahan pasar saham Hong Kong pada awal pekan.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,85% dan menjadi yang terburuk di kawasan Asia, sementara Topix melemah 0,46%. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun melonjak ke level 2,218%, tertinggi sejak 1999.

Pasar saham Korea Selatan bergerak berlawanan arah dengan mayoritas bursa Asia. Indeks Kospi naik 0,18%, sementara indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq terkoreksi 0,15%.

Di Australia, indeks S&P/ASX 200 dibuka melemah 0,19% pada awal perdagangan. Tekanan ini sejalan dengan sentimen global yang masih diliputi ketidakpastian geopolitik dan ekonomi.

(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article IHSG Sesi I Naik 0,6%,Market Cap Tembus Rp 15.000 Triliun


Most Popular
Features