Rupiah Makin Tertekan, Dolar AS Sudah Tembus Rp16.935
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan melanjutkan tren pelemahannya pada penutupan perdagangan awal pekan ini, Senin (19/1/2026).
Melansir data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,33% ke level Rp16.935/US$, sekaligus mencetak level penutupan terlemah sepanjang sejarah terbaru. Padahal pada pembukaan perdagangan pagi hari, rupiah sempat menguat 0,15% dan berada di level Rp16.850/US$.
Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di rentang Rp16.850-Rp16.945 per dolar AS, mencerminkan volatilitas yang cukup tinggi di tengah tekanan pasar.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB justru terpantau melemah 0,20% ke level 99,199. Pelemahan dolar AS di pasar global seharusnya membuka ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, namun rupiah kembali gagal memanfaatkan momentum tersebut.
Tekanan terhadap dolar AS sendiri muncul seiring meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Pelaku pasar merespon pernyataan Presiden AS Donald Trump yang kembali melontarkan ancaman tarif tambahan terhadap sejumlah negara Eropa terkait isu Greenland.
Ancaman tersebut memicu kekhawatiran akan eskalasi tensi dagang global dan berpotensi memperburuk hubungan ekonomi AS dengan mitra utamanya di Eropa.
Sejumlah negara Uni Eropa merespon keras pernyataan tersebut dan menilai langkah AS sebagai bentuk tekanan sepihak. Kondisi ini mendorong pelaku pasar bersikap lebih defensif, mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, serta menilai ulang prospek dolar AS dalam jangka menengah.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah turut dipengaruhi oleh arus keluar modal asing yang kembali terjadi di pasar keuangan domestik. Data Bank Indonesia (BI) mencatat, sepanjang periode 12-14 Januari 2026, investor asing membukukan aksi jual bersih (net outflow) sebesar Rp7,71 triliun. Angka ini sekaligus mematahkan tren aliran dana asing yang sebelumnya mencatatkan inflow selama empat pekan beruntun.
Tekanan arus keluar tersebut terutama terjadi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Pada periode tersebut, investor asing tercatat melepas SBN senilai Rp8,15 triliun dan SRBI sebesar Rp2,64 triliun. Di sisi lain, asing masih mencatatkan beli bersih Rp3,08 triliun di pasar saham.
(evw/evw)[Gambas:Video CNBC]