Rupiah Dibuka Menguat, Nilai Tukar Dolar AS Turun ke Rp16.850

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Senin, 19/01/2026 09:12 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan pekan ini, Senin (19/1/2026), seiring melemahnya dolar AS di pasar global.

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan pagi ini dengan penguatan sebesar 0,18% dan berada di level Rp16.850/US$.


Penguatan tersebut terjadi setelah pada perdagangan terakhir pekan lalu, Kamis (15/1/2026), rupiah ditutup melemah 0,15% ke posisi Rp16.880/US$, yang sekaligus menjadi level penutupan terlemah rupiah sepanjang masa.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah cukup dalam sebesar 0,31% ke level 99,082.

Pergerakan rupiah pada perdagangan pertama pekan ini diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal, khususnya pelemahan dolar AS di pasar global.

Tekanan terhadap greenback muncul setelah investor merespon meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat, menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang kembali melontarkan ancaman tarif tambahan terhadap sejumlah negara Eropa terkait isu Greenland.

Ancaman tarif tersebut memicu kekhawatiran baru mengenai eskalasi tensi dagang global dan berpotensi menekan hubungan ekonomi AS dengan mitra utamanya di Eropa.

Sejumlah negara Uni Eropa pun merespon keras pernyataan tersebut dan menilai langkah AS sebagai bentuk tekanan sepihak. Kondisi ini mendorong pelaku pasar bersikap lebih defensif dan mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, sekaligus menilai ulang prospek dolar AS dalam jangka menengah.

Di tengah meningkatnya ketidakpastian tersebut, arus dana global terlihat mengalir ke aset safe haven seperti yen Jepang dan franc Swiss.

Namun berbeda dari pola risk-off sebelumnya, dolar AS justru turut tertekan yang menunjukkan adanya keraguan pasar terhadap keberlanjutan dominasi dolar di tengah kebijakan proteksionis dan ketidakpastian arah ekonomi AS. Investor juga masih mengingat gejolak besar yang terjadi pasca pengumuman tarif besar-besaran AS pada April 2025, yang sempat memicu krisis kepercayaan terhadap aset berdenominasi dolar.

Tekanan terhadap dolar AS ini pada akhirnya membuka ruang bagi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, setidaknya pada awal perdagangan hari ini. Meski demikian, pelaku pasar tetap akan mencermati perkembangan lanjutan kebijakan AS serta respons global, mengingat volatilitas pasar keuangan global masih berpotensi tinggi.


(evw/evw)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Masih Lanjut Melemah, BI Rate Ditahan Lagi?