CNBC Insight

Mal Pertama di RI Dilarang Jual Barang Mahal, Warga Tenang Belanja

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Sabtu, 17/01/2026 08:00 WIB
Foto: Gedung Sarinah Thamrin, Jakarta Pusat. (Gallery Sarinah.co.id)

Jakarta, CNBC Indonesia - Salah satu kekhawatiran ketika pergi ke mal adalah tak mampu membeli barang. Biasanya, produk yang dijajakan di mal-mal saat ini mematok harga lebih tinggi ketimbang di pasar tradisional atau platform online. 

Tak heran jika mal identik sebagai tempat nongkrong kelas menengah dan orang kaya saja. Padahal, dulu ada mal yang inklusif karena harga barang-barangnya terjangkau.

Belum banyak orang yang tahu bahwa mal pertama di Indonesia memiliki kisah dan filosofi menarik di baliknya. Mal itu tak lain adalah Sarinah yang hingga sekarang masih bertahan dan direnovasi.


Sarinah dan Ambisi Soekarno

Pendirian Sarinah tak terlepas dari ambisi Presiden Soekarno membangun proyek mercusuar. Pada dekade 1960-an, Soekarno memang berambisi memulai banyak proyek supaya Indonesia terlihat "wah" di mata dunia.

Apalagi kala itu Indonesia akan menjadi tuan rumah Asian Games 1962. Padahal, dari segi ekonomi, inflasi sedang tinggi dan tak seharusnya presiden memulai banyak proyek konsumtif.

Namun, Soekarno tetap menginisiasi proyek konstruksi, seperti Hotel Indonesia, Gelora Bung Karno, dan juga pusat perbelanjaan pertama atau mal di Indonesia.

Jurnalis Rosihan Anwar dalam Sukarno, Tentara, PKI: Segitiga Kekuasaan Sebelum Prahara Politik (2006) menceritakan, dalih Soekarno membuat mal pertama adalah sebagai solusi mengatasi kesulitan rakyat di bidang sandang dan pangan.

Dia ingin mal tak bersifat kapitalis, tapi harus berorientasi ekonomi sosialis. Mal tersebut akan menjadi tempat promosi bagi barang produksi dalam negeri, khususnya hasil pertanian dan perindustrian. Seluruh barang pun harus dijual murah atau tidak terlalu tinggi, sehingga mall pertama ini bisa menjadi stabilisator harga.

"Kalau di department store harganya cuma Rp50, di luar department store, orang tidak berani menjual Rp100," kata Soekarno memberikan contoh bahwa harga murah di mal pasti akan diikuti pasaran, dituliskan ulang oleh R. Soeharto dalam Saksi Sejarah (1984).

Pembangunan mal pertama ini baru terlaksana pada 17 Agustus 1962. Kala itu, Soekarno menamai mal tersebut sebagai Sarinah yang merupakan nama pengasuhnya saat kecil. Dia berharap tempat tersebut bisa menjadi tonggak sejarah perkembangan Indonesia, seperti Sarinah yang mengasuhnya dari kecil hingga dewasa.

Sekalipun ekonomi carut-marut, pendanaan Sarinah berasal dari uang pampasan atau ganti rugi perang dari Jepang.

Kontraktornya berasal dari Jepang yang juga membangun Jembatan Musi di Palembang. Lalu, rancangan bangunan dibantu oleh arsitek Denmark. Soekarno sendiri menjadi Presiden Direktur PT Sarinah. Dia memantau langsung setiap perkembangan pusat perbelanjaan pertama itu.

Singkat cerita, tepat empat tahun kemudian, pada 17 Agustus 1966, Sarinah resmi dibuka. Peresmian Sarinah mencatat rekor serbaneka pertama. Dia menjadi mall pertama di Asia Tenggara yang berisikan ruangan berpendingin udara pertama dan eskalator pertama.

Ketika awal beroperasi, Sarinah menjelma menjadi etalase produk buatan Indonesia. Tentu semuanya dijual murah. Sayang, Soekarno tak bisa lama melihat itu sebab harus lengser sebagai Presiden RI pada 1967. Begitu juga Sarinah yang tak lagi jual barang murah, sebab orientasi ekonomi Indonesia turut mengalami perubahan di kekuasaan presiden baru.

Setelah Sarinah, kita tahu mal di Jakarta bermunculan satu per satu. Tentu, kini cita-cita Soekarno yang ingin menjadikan mal sebagai sentra barang murah makin sulit terwujud. Namun, catatan sejarah ini bisa menambah wawasan terkait bagaimana pusat perbelanjaan di zaman dulu.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Inflasi Medis Tinggi, Ini Cara Asuransi Kesehatan Gaet Nasabah