MARKET DATA

Rupiah Hadapi Beban Berat di 2026, Dolar Bisa di Atas Rp16.800

Arrijal Rachman ,  CNBC Indonesia
12 January 2026 07:55
Petugas menjunjukkan mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) di VIP Money Changer, Jakarta, Kamis (25/9/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) di VIP Money Changer, Jakarta, Kamis (25/9/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah ekonom memperkirakan tekanan terhadap mata uang rupiah masih akan terus berlanjut di kisaran atas proyeksi pemerintah sepanjang 2026.

Dalam UU Nomor 17 Tahun 2025 tentang APBN 2026, asumsi indikator ekonomi makro untuk nilai tukar rupiah Rp 16.500/US$, di atas asumsi tahun sebelumnya di level Rp 16.000/US$.

Proyeksi kalangan ekonom terhadap kurs untuk tahun ini juga jauh di atas asumsi Bank Indonesia (BI). Dalam Anggaran Tahunan Bank Indonesia (ATBI) 2026, nilai tukar rupiah diasumsikan di level US$ 16.430/US$ sepanjang tahun ini.

Head of Banking Research and Analytics Economy BCA Victor George Petrus Matindas mengungkapkan setidaknya ada tiga faktor yang berpotensi menekan nilai tukar rupiah sepanjang tahun ini, hingga berpotensi bergerak di kisaran atas Rp 16.800/US$, yaitu pelebaran defisit fiskal, tekanan inflasi, dan pelemahan surplus neraca perdagangan.

"Concerning terkait rupiah mainly selain dari soal fiskal beberapa pertanyaan investor ke kami terkait dengan trade surplus dan inflasi," kata Victor saat ditemui di kantornya pekan lalu, dikutip Senin (12/1/2026).

Dari sisi fiskal, Victor menjelaskan, investor global banyak yang mengkhawatirkan tekanan defisit APBN pemerintah akan kembali membengkak pada tahun ini.

Pada 2025 saja, realisasi defisit APBN 2025 senilai Rp 695,1 triliun atau setara 2,92% produk domestik bruto (PDB). Defisit itu sekitar 112,8% dari target dalam UU APBN 2025 yang hanya senilai Rp 616,2 triliun atau setara dengan 2,53% PDB.

Defisit yang makin melebar akan membuat biaya penerbitan obligasi pemerintah makin tinggi, karena kecenderungan investor untuk meminta imbal hasil yang lebih besar. Hal ini berpotensi menekan aliran modal asing masuk yang dibutuhkan untuk memperkuat pasokan dolar di dalam negeri.

Mengutip catatan Bank Indonesia (BI), pada pekan pertama tahun ini, data transaksi 5 - 8 Januari 2026, aliran modal asing telah keluar Rp 1,38 triliun dari pasar Surat Berharga Negara (SBN).

"Ini yang jadi alasannya kenapa di semester II ada outflow juga dari goverment bonds, kita enggak bisa pinpoint penyebab apa tapi juga ada kabar realisasi anggaran sampai di defisit berapa dan ini juga menjadi salah satu risiko tahun depan depresiasi kurs," tegasnya.

Faktor kedua, dari sisi inflasi, ia sebut juga menjadi kekhawatiran para investor global untuk Indonesia karena ada potensi pembengkakan ke level atas 3%. Selain karena terdorong faktor kenaikan harga emas juga ada efek rendahnya baseline tekanan inflasi pada kuartal I-2025 akibat insentif diskon listrik.

"Jadi concern mereka terkait rupiah mereka bertanya terkait outlook inflasi. Inflasi kan kemungkinan accelerate apalagi Q1 tahun lalu ada diskon listrik kan gede-gedean," papar Victor.

Terkahir, faktor ketiga yang terkait dengan potensi pelemahan surplus neraca perdagangan, dipicu oleh potensi besarnya oversupply pasokan barang dari China di tingkat global, hingga normalisasi permintaan negara-negara mitra dagang yang tak terlepas dari lemahnya prospek pertumbuhan ekonomi mereka.

"Kita kan memang juga sudah ekspektasi trade surplus mengecil. Itu salah satu alasan rupiah agak melemah," ungkapnya.

Sepanjang tahun ini, tim ekonom BCA memperkirakan, skenaro terbaik atau best-case bagi kurs rupiah akan bergerak di kisaran Rp 16.565/US$, base cast di level Rp 16.842/US$, dan worst case Rp 17.334/US$.

Proyeksi terhadap kurs rupiah ini juga tak beda jauh dengan pandangan ekonom lainnya. Malahan, Ekonom UOB Kay Hian Surya Wijaksana melihat lebih pesimis terkait mata uang Garuda. "Rupiah end of year Rp 17.234/US$," katanya kepada CNBC Indonesia.

Surya mengatakan nilai tukar rupiah berpotensi terbebani oleh kebijakan Bank Indonesia yang cenderung longgar. "Ada juga kekhawatiran pasar akan rupiah yang semakin tertekan akibat kebijakan moneter BI yang cenderung longgar," katanya.

Ia turut memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada 2026 berada di 5,3% yoy. Namun, masih ada awan gelap yang mengiringi laju pertumbuhan ekonomi yang juga akan menjadi beban bagi pergerakan nilai tukar rupiah.

"Tantangan masih ada, antara lain meningkatnya proteksionisme di tingkat global, masih lemahnya daya beli kelas menengah dan menengah bawah dan efek multiplier dari program-program baru pemerintah yang masih terbatas," ucap Surya.

Kendati begitu, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede meyakini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mampu menguat pada 2026, namun terbatas.

"Nilai tukar rupiah diperkirakan menguat terbatas, dengan kisaran Rp16.500-Rp16.700 per dolar AS pada akhir 2026," ujarnya kepada CNBC Indonesia.

Ia mengatakan bahwa penguatan rupiah ditopang peluang aliran modal masuk saat kondisi suku bunga global lebih mendukung. Tapi, ruang apresiasinya tidak besar karena beberapa faktor penahan.

"Normalisasi harga komoditas, defisit transaksi berjalan yang cenderung melebar dibanding 2025, serta kekhawatiran pasar bila bauran kebijakan dalam negeri terlalu longgar di tengah kebutuhan pembiayaan defisit yang meningkat," tegasnya.

Sepanjang tahun lalu, pergerakan kurs rupiah memang telah jauh melenceng dari perkiraan pemerintah maupun Bank Indonesia (BI).

Dalam konferensi pers APBN 2025, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan selama tahun berjalan (ytd) kurs rupiah bertengger di level Rp 16.475/US$, sedangkan di akhir tahun buku (eop) Rp 16.782/US$. Padahal, asumsi kurs dalam APBN 2025 Rp 16.000 dan dalam asumsi ATBI 2025 Rp 15.285/US$.

(arj/haa)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Naik ke Rp16.560


Most Popular
Features