MARKET DATA

Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Naik ke Rp16.785

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
08 January 2026 09:03
Pekerja pusat penukaran mata uang asing menghitung uang Dollar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)
Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (AS). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan pagi ini, Kamis (8/1/2026).

Merujuk data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp16.785/US$, atau terdepresiasi sebesar 0,09%. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif pada perdagangan sebelumnya, di mana rupiah terkoreksi 0,15% dan ditutup di posisi Rp16.770/US$ yang sekaligus mencatatkan pelemahan empat hari perdagangan beruntun sejak awal tahun 2026.

Sementara itu, hingga pukul 09.00 WIB, indeks dolar AS (DXY) terpantau berada di level 98,757, atau menguat tipis 0,07%.

Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen domestik dan eksternal.

Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada agenda penting pemerintah, yakni konferensi pers APBN KiTa Edisi Januari 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis siang pukul 13.30 WIB. Agenda tersebut akan memaparkan realisasi penuh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk tahun anggaran 2025.

Kinerja APBN secara keseluruhan akan menjadi sorotan pasar, khususnya dari sisi belanja, pendapatan, hingga defisit fiskal. Fokus utama tertuju pada realisasi defisit APBN, seiring meningkatnya kekhawatiran defisit dapat melebar dan mendekati batas target yang telah ditetapkan pemerintah.

Selain itu, realisasi pendapatan negara juga menjadi perhatian, terutama terkait penerimaan pajak yang dinilai mencerminkan kemampuan pemerintah dalam menghimpun penerimaan di tengah perlambatan ekonomi domestik maupun global. Pasar akan mencermati seberapa besar potensi shortfall penerimaan pajak sepanjang 2025.

Di sisi belanja, pelaku pasar juga menunggu kejelasan terkait realisasi belanja pemerintah, khususnya untuk program-program prioritas, seperti Makanan Bergizi Gratis (MBG), belanja subsidi, serta bantuan sosial. Realisasi pembiayaan utang selama 2025 turut menjadi perhatian, mengingat perannya dalam menopang defisit APBN.

Sebagai catatan, hingga November 2025, defisit APBN tercatat sebesar Rp560,3 triliun atau sekitar 2,35% terhadap produk domestik bruto (PDB), mendekati target defisit dalam APBN 2025 sebesar 2,48% dari PDB.

Dari sisi eksternal, pergerakan rupiah masih dibayangi oleh dinamika dolar AS yang relatif stabil terhadap mayoritas mata uang utama dunia. Pasar global saat ini tengah mencermati rangkaian data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis sepanjang pekan ini.

Data terbaru menunjukkan jumlah pembukaan lapangan kerja di AS pada November turun lebih dalam dari perkiraan, sementara laju perekrutan juga melambat, mengindikasikan permintaan tenaga kerja yang mulai mendingin. Di sisi lain, aktivitas sektor jasa AS pada Desember justru menunjukkan perbaikan, sementara pertumbuhan payroll sektor swasta tercatat lebih rendah dari ekspektasi.

Fokus utama pasar global kini tertuju pada laporan ketenagakerjaan nonfarm payrolls (NFP) yang akan dirilis pada Jumat. Data tersebut dinilai krusial dalam memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS dan implikasinya terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS ke depan.

(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Loyo Awal Tahun, Dolar AS Tembus Rp16.715/US$


Most Popular
Features