MARKET DATA

IHSG Lagi-Lagi Cetak Rekor ATH Baru, OTW Nanjak ke 9.000

Redaksi,  CNBC Indonesia
06 January 2026 16:30
Pembukaan perdagangan bursa efek Indonesi tahun 2026, Jumat (2/1/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Pembukaan perdagangan bursa efek Indonesi tahun 2026, Jumat (2/1/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menguat pada perdagangan Selasa (6/1/2026) dan melanjutkan reli perdagangan pekan ini. Indeks menguat74,42 poin atau lompat 0,84% ke level8.933,61 pada akhir perdagangan sesi kedua.

Ini merupakan rekor harga penutupan perdagangan tertinggi sepanjang masa (all time high) baru yang dicatatkan IHSG.

Sebanyak 428 saham naik, 256 turun, dan 127 tidak bergerak. Nilai transaksi hari ini tergolong ramai atau mencapai Rp 34,14 triliun melibatkan 67,91 miliar saham dalam 4,37 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar mencapai Rp 16.337 triliun atau nyaris mencapai US$ 1 miliar.

Saham-saham komoditas masih menjadi yang paling ramai ditransaksikan hari ini. Transaksi di saham BUMI hari ini mencapai Rp 4,02 triliun, di saham DEWA Rp 2 triliun, di saham AMMN Rp 1,29 triliun, di saham AMMN Rp 930 miliar.

Selain itu dari pasar negosiasi, tercatat ada transaksi senilai RP 270,1 miliar di saham DEWA dengan harga rata-rata Rp 645 per saham. Kemudian ada juga Rp 215,2 miliar di saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang melibatkan 589,7 ribu lot dalam 15 kali transaksi. Adapun harga rata-rata transaksi tersebut mencapai Rp 3.643 per saham.

Mayoritas sektor perdagangan berada di zona hijau dengan penguatan terbesar dicatatkan oleh sektor barang baku. Sedangkan koreksi paling dalam hari ini dicatatkan oleh sektor energi.

Saham-saham yang menjadi penggerak utama IHSG termasuk AMMN, BBCA, BBRI, MDKA dan PTRO. Sedangkan pemberat utama kinerja indeks hari ini termasuk BMRI, TLKM, DSSA, BREN dan BRPT.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih volatile di tengah kisruh di Venezuela. Investor juga masih mencerna data ekonomi terbaru serta arah ekonomi ke depan.

Pekan pertama 2026 dibuka dengan guncangan geopolitik dari Amerika Latin. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam sebuah operasi militer besar-besaran yang langsung menyasar jantung kekuasaan di Caracas. Peristiwa ini berpotensi memicu turbulensi di pasar global, di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik sejak awal tahun.

Beralih ke dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia pada Desember 2025 mencapai 0,64% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 2,92% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Kelompok makanan menjadi pendorong utama tekanan harga sepanjang 2025, dengan inflasi 1,66% dan memberikan andil 0,48% terhadap inflasi nasional.

Secara historis, tingkat inflasi 2,92% ini lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2024 yang hanya 1,57%, yang juga tercatat sebagai inflasi tahunan terendah dalam sejarah Indonesia. Inlasli 2025 adalah yang tertinggi sejak 2023.

Sementara itu, pasar Asia-Pasifik dibuka beragam pada hari Selasa, melanjutkan reli di pasar saham global karena investor terus menilai ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung setelah serangan AS terhadap Venezuela dan penangkapan Nicolas Maduro.

Indeks acuan Nikkei 225 Jepang naik 1,12%, sementara Topix melonjak 1,48% ke rekor tertinggi. Kospi Korea Selatan turun 0,85%, sementara Kosdaq untuk saham berkapitalisasi kecil naik tipis 0,09%. ASX/S&P 200 Australia turun 0,42%.

Indeks Hang Seng Hong Kong diperkirakan akan dibuka lebih tinggi, dengan kontrak berjangka diperdagangkan pada 26.562, dibandingkan penutupan sebelumnya di 26.347,24.

(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article IHSG Melesat 1,06%, Pelan-Pelan Dekati Rekor ATH


Most Popular
Features