CNBC Indonesia Research

Cek! 11 Saham Murah tapi Gak Murahan, Minat Beli?

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
15 December 2022 15:33
Karyawan beraktivitas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (23/11/2022). IHSG ditutup menguat 0,33 persen atau 23,53 poin ke 7.054,12 pada akhir perdagangan, sebanyak 249 saham menguat, 255 saham melemah, dan 199 saham stagnan. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Karyawan beraktivitas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (23/11/2022). IHSG ditutup menguat 0,33 persen atau 23,53 poin ke 7.054,12 pada akhir perdagangan, sebanyak 249 saham menguat, 255 saham melemah, dan 199 saham stagnan. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebagai seorang yang menganut madzhab value investing dalam berinvestasi, memilih saham dengan valuasi 'terdiskon' tetapi fundamental solid adalah cara untuk mendapatkan return yang optimal.

Dengan segala risiko yang ada mulai dari kenaikan inflasi, peningkatan suku bunga acuan yang agresif, perang hingga ancaman resesi, dana asing masih membanjiri pasar saham domestik.

Sepanjang tahun 2022, investor asing net buy sebesar Rp 49 triliun di pasar reguler. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga menguat 2,59%.

Meski anjlok sejak awal Desember, IHSG masih memberikan return yang positif sepanjang tahun yang membuktikan bahwa pasar modal dalam negeri masih tangguh.

Saat ini ada lebih dari 800 emiten saham yang listing di pasar modal domestik. Dari ratusan saham tersebut, ada 30 saham yang menjadi konstituen indeks IDX30 yang sering menjadi acuan investor untuk melihat saham-saham dengan fundamental baik.

Perhitungan Tim Riset CNBC Indonesia menunjukkan median Price to Earnings Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV) saham-saham penghuni IDX30 ada di 12,87 kali dan 2,08 kali.

Ada sebanyak 11 saham yang memiliki valuasi relatif terdiskon jika dibandingkan dengan peers yaitu saham dengan PER dan PBV di bawah median serta PER di bawah 10 kali dan PBV di bawah 2 kali

Ke-11 saham tersebut berasal dari sektor yang berbeda-beda, mulai dari perbankan, pertambangan batu bara, tambang mineral dan logam, hingga konglomerasi.
Di sektor perbankan ada saham BBNI yang ditransaksikan dengan PBV 1,38 kali. Di sektor konglomerasi ada ASII dan EMTK yang masing-masing ditransaksikan dengan PER 7,61 kali dan 8,82 kali.

Di sektor pertambangan baik batu bara maupun mineral paling banyak menyumbang saham dengan valuasi 'miring' di antara peers.

Saham ADRO ditransaksikan dengan PER 3,24 kali; ITMG dengan PER 2,51 kali; PTBA dengan PER 3,27 kali; TINS dengan PER 5,82 kali dan UNTR memiliki PER 4,7 kali.
Di sektor konsumen ada emiten milik Anthony Salim yakni INDF dengan PER 9,89 kali. Kemudian di sektor Pulp & Paper ada INKP dengan PER 3,98 kali. Terakhir di sektor migas ada PGAS dengan PER 6,95 kali.

Saham-saham tersebut termasuk ke dalam daftar saham blue chip yang dapat dikatakan sebagai saham dengan valuasi murah, tetapi tidak murahan karena ditopang oleh fundamental yang kuat sehingga dapat menjadi saham-saham pilihan untuk berinvestasi.

Sanggahan: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli atau menjual saham terkait. Keputusan investasi sepenuhnya ada pada diri anda, dan CNBC Indonesia tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sempat Menguat di Sesi 1, IHSG Hari Ini Ditutup Melemah


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading