Dunia Gelap Bikin Orang Ogah Pegang Cash, Ini Alasannya

Market - Ayyi Hidayah, CNBC Indonesia
09 December 2022 11:20
Foto multiple exposure karyawan berswafoto di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (23/11/2022).  Jumlah investor pasar modal Indonesia bertambah signifikan dibandingkan 2021. Berdasarkan data KSEI per 3 November 2022, jumlah investor pasar modal yang mengacu pada Single Investor Identification (SID) telah mencapai 10.000.628 atau naik 33,53% dari 7.489.337 di akhir 2021. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto) Foto: Foto multiple exposure karyawan berswafoto di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (23/11/2022). IHSG ditutup menguat 0,33 persen atau 23,53 poin ke 7.054,12 pada akhir perdagangan, sebanyak 249 saham menguat, 255 saham melemah, dan 199 saham stagnan. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Laporan "Wealth Expectancy Report 2022" Standard Chartered mengungkapkan jika 81% investor mengubah strategi investasi mereka ketika inflasi melambung. Yang mengejutkan lagi, banyak orang sekarang justru meningkatkan investasinya dan tidak mau memegang uangĀ cash.

Dalam rilisnya, laporan tersebut mengkaji perubahan keputusan berinvestasi lebih dari 15.000 investor emerging affluent, affluent dan high net worth (HNW) di 14 negara termasuk Indonesia. Kajian ini juga mencakup pergerakan di pilihan kelas aset utama dalam berinvestasi.

Hasil survei menunjukkan bahwa sehubungan dengan tantangan ekonomi saat ini, 81% investor lokal kini lebih aktif mengelola kekayaan dan mengubah strategi investasi mereka.

Investor Indonesia menyatakan inflasi (40%), ancaman resesi (40%) dan ketidakpastian ekonomi global (38%) sebagai kekhawatiran utama mereka. Meningkatnya inflasi (34%), resesi (27%) dan ketidakpastian ekonomi global (22%) juga merupakan kekhawatiran utama bagi investor internasional.

Dalam satu tahun terakhir, investor lokal telah melakukan perubahan dalam mengatur keuangan mereka, seperti mengurangi pengeluaran (28%) dan membuat keputusan baru seputar portofolio mereka (28%), yang menyebabkan perubahan pada proporsi kelas aset utama.

Untuk mengatasi inflasi, 61% investor global ingin mengurangi porsi kepemilikan uang tunai mereka, begitu juga halnya dengan 61% investor di Indonesia. Berdasarkan tanggapan investor Standard Chartered memperkirakan bahwa alokasi kas global akan turun dari 26% pada tahun 2022 menjadi 15% pada tahun 2023.

Para investor juga sedang mempertimbangkan kembali kepemilikan ekuitas mereka karena volatilitas pasar yang meningkat, meskipun kelas aset ini akan tetap menjadi bagian penting dari portfolio mereka.

Berdasarkan respon survey, ada indikasi bahwa alokasi saham di portofolio di Indonesia akan turun dari 9,5% menjadi 7% di tahun depan. Tahun ini, investor Indonesia terus menunjukkan minat yang tinggi terhadap emas, dengan 60% mengatakan mereka berinvestasi di aset ini sebagai akibat dari inflasi.

Selain itu untuk memerangi inflasi pada tahun 2022 ada minat pada value stock sebesar 41% dan obligasi sebesar 41%. Investasi berkelanjutan akan terus mendapatkan minat dan modal investor, meskipun kekhawatiran terjadinya greenwashing tetap ada. Lebih dari separuh investor global (52%) berharap dapat meningkatkan investasi berkelanjutan mereka pada tahun 2023. Sementara 61% investor di Indonesia juga berencana demikian.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Inflasi Tinggi dan Ancaman Resesi, Simpan Duit di Mana Nih?


(ayh/ayh)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading