Ramalan Morgan Stanley Soal Harga Energi

Market - teti purwanti, CNBC Indonesia
29 November 2022 08:50
Pekerja melakukan bongkar muat di kapal tongkang bermuatan batubara dari Kalimantan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (4/8/2022). (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Pekerja melakukan bongkar muat di kapal tongkang bermuatan batubara dari Kalimantan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (4/8/2022). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pada 2022, indeks Komoditas Bloomberg mengungguli indeks ekuitas Dunia MSCI secara signifikan selama dua tahun berturut-turut. Padahal, terakhir kali ini terjadi mengubah serangkaian kinerja komoditas dan menjadi hal yang sangat jarang terjadi.

Namun, dengan China dibuka kembali, kenaikan suku bunga, dan dolar mencapai puncaknya kemungkinan besar pada tahun 2023, faktor-faktor ini dapat berubah menjadi penarik yang berarti bagi komoditas. 

Berdasarkan riset Morgan Stanley harga minyak Brent diperkirakan naik ke US$110/bbl karena pemulihan permintaan berlanjut, kapasitas cadangan terkikis dengan cepat, dan respons modal umumnya tidak ada.

"Pasar gas dan LNG Eropa cenderung tetap ketat dan mendukung pemulihan harga di tingkat saat ini," ungkap riset MSCI dikutip Selasa (29/11/2022).

Sementara itu, prediksi logam dasar, masih didominasi dengan ketidakpastian dari sisi permintaan.

"Dengan permintaan yang masih belum pasti, kami fokus pada sisi penawaran logam dasar. Urutan preferensi adalah sebagai berikut: Aluminium, seng, timah, tembaga, nikel," ungkap riset tersebut.

Aluminium menjadi pilihan utama karena pasokan terus mengetat karena permintaan yang tidak menentu. Adapun untuk tembaga diperkirakan pasar akan mengalami kelebihan pasokan pada tahun 2023, sehingga harus tetap waspada.

Sementara itu, harga emas telah bergerak lebih rendah dengan dolar Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dan suku bunga yang meningkat, tetapi masih terlihat dinilai terlalu tinggi. Sehingga diperkirakan imbal hasil riil dan nominal, dengan pelemahan berlanjut.

"Kami perkirakan bahwa pemulihan berurutan pada produksi baja China pada 1H23, dikombinasikan dengan pasokan musiman yang lebih lemah, akan menghasilkan hasil yang serupa Keketatan pasar 1H seperti yang terlihat pada 2021/22, mendorong bijih besi kembali ke US$125/t. Batubara bisa bertahan lebih tinggi lebih lama, tetapi harga seharusnya secara bertahap cenderung lebih rendah, karena pasar batubara menyeimbangkan kembali secara perlahan," pungkas riset tersebut.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dua Direksi Golden Energy (GEMS) Resign Bareng, Ada Apa?


(tep/ayh)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading