Menanti Pendongkrak IHSG Yang Lesu

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
25 November 2022 12:40
Karyawan beraktivitas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (23/11/2022). IHSG ditutup menguat 0,33 persen atau 23,53 poin ke 7.054,12 pada akhir perdagangan, sebanyak 249 saham menguat, 255 saham melemah, dan 199 saham stagnan. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Karyawan beraktivitas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (23/11/2022). IHSG ditutup menguat 0,33 persen atau 23,53 poin ke 7.054,12 pada akhir perdagangan, sebanyak 249 saham menguat, 255 saham melemah, dan 199 saham stagnan. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terbenam di zona merah di sesi I perdagangan Jumat (25/11/2022).

IHSG drop 0,65% dan ditutup di 7.034,6 hingga istirahat siang. IHSG hanya sempat menguat tipis di awal perdagangan dengan posisi tertingginya di 7.086,6. Posisi terendah IHSG siang ini berada di 7.031,8.

Semalam Wall Street tutup memperingati hari thanksgiving. Sentimen rilis risalah rapat FOMC ternyata tetap saja tak begitu kuat mengantarkan IHSG tembus ke atas 7.100.

Mayoritas indeks saham kawasan Asia juga terbenam di zona merah siang ini. Hanya indeks Shang Hai Composite yang berhasil lolos dari koreksi dengan penguatan 0,44%.
Risalah tersebut juga menunjukkan dengan kenaikan suku bunga yang lebih kecil, para pejabat The Fed bisa mengevaluasi dampak dari kenaikan agresif sebelumnya.

Sebelumnya harapan akan mengendurnya The Fed muncul setelah tingkat pengangguran di Amerika Serikat mengalami kenaikan pada Oktober, sementara inflasi menurun.
Mengacu pada FedWatch, sebanyak 75,8% analis memprediksikan adanya kenaikan sekitar 50 bps dan akan mengirim tingkat suku bunga acuan Fed menjadi 4,25%-4,5%.

Pelaku pasar dalam beberapa hari terakhir sudah memprediksi The Fed akan menaikkan 50 basis poin bulan depan, dan rupiah masih tetap sulit menguat.
Selain itu, yang menjadi fokus utama sebenarnya bukan berapa basis poin kenaikan, tetapi seberapa tinggi suku bunga The Fed di akhir periode pengetatan moneter.

Di tengah simpang siur seputar suku bunga akhir Fed, IHSG masih bergerak sideways dan belum mampu menembus level psikologis 7.100. Untuk melihat arah gerak IHSG di sesi II, simak ulasan teknikal di bawah ini.

Analisis Teknikal

Pergerakan IHSG dianalisis berdasarkan periode waktu jam (hourly) dan menggunakan indikator Boillinger Band (BB) untuk menentukan area batas atas (resistance) dan batas bawah (support).

Jika melihat level penutupan IHSG dan indikator BB sesi I, indeks ditutup mendekati batas bawah BB 7.030.

Pergerakan IHSG juga dilihat dengan indikator teknikal lain yaitu Relative Strength Index (RSI) yang mengukur momentum.

Perlu diketahui, RSI merupakan indikator momentum yang membandingkan antara besaran kenaikan dan penurunan harga terkini dalam suatu periode waktu.
Indikator RSI berfungsi untuk mendeteksi kondisi jenuh beli (overbought) di atas level 70-80 dan jenuh jual (oversold) di bawah level 30-20. Posisi RSI turun ke 41,23.

Dilihat dari indikator lain yaitu Moving Average Convergence Divergence (MACD), garis EMA 12 tampak sudah memotong garis EMA 26 dari atas.
Melihat berbagai indikator teknikal yang ada, peluang koreksi lanjutan IHSG masih terbuka. Apabila IHSG drop ke bawah 7.030, support terdekat ada di level psikologis 7.000.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

24 Emiten Ini Masuk IDX LQ45 Low Carbon Leaders


(trp/trp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading