Sri Mulyani: Sektor Keuangan Kita Paling Buncit di ASEAN-5

Market - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
10 November 2022 14:38
Konferensi pers hasil rapat berkala KSSK IV tahun 2022. (Tangkapan layar Youtube Kemenkeu RI) Foto: Konferensi pers hasil rapat berkala KSSK IV tahun 2022. (Tangkapan layar Youtube Kemenkeu RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan jika sektor keuangan Indonesia (aset bank, kapitalisasi pasar modal, asuransi, dana pensiun) relatif dangkal dibandingkan negara lain di ASEAN-5.

"Kondisi ini mengindikasikan bahwa untuk masyarakat dalam menghimpun dana untuk industri keuangan masih sangat terbatas, dan potensi pendalaman pasar masih sangat besar," ungkap Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI membahas RUU PPSK, Kamis (10/11/2022).

Sektor perbankan masih didominasi sumber pendanaan jangka pendek. Sementara pembiayaan pembangunan membutuhkan sumber pendanaan jangka panjang.

IKNB sebagai sumber pendanaan jangka panjang memiliki porsi dan peran yang masih kecil terhadap sektor keuangan maupun PDB.

Kondisi ini menggambarkan bahwa kapasitas menghimpun dana oleh sektor keuangan Indonesia relatif rendah, sementara potensi pendalaman masih besar.

Aset bank dibandingkan produk domestik bruto (PDB) Indonesia berada di angka 59,5%. Sementara negara ASEAN-5 lainnya, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina berada di angka 572,1%, 198,6%, 146,6% dan 99,2%.

Sementara kapitalisasi pasar modal per PDB Indonesia baru mencapai 48,3%. Kalah dari Singapura, Thailand, Malaysia dan Filipina yang sudah mencapai 189%, 120,9%, 109,9%, 93,2%.

Kemudian untuk aset industri asuransi terhadap PDB kita masih berada di angka 5,8%, jauh dibawah Singapura, Thailand, Malaysia dan Filipina yang masing-masing sebesar 47,5%, 23,2%, 20,3% serta 8,5%.

Lalu aset dana pensiun per PDB yang hanya 6,9%, kalau dibanding Malaysia dan Singapura yang sebesar 59,9% dan 32,3%. Namun sejajar dengan Thailand, dan unggul atas Filipina yang masing-masing 6,9% serta 3,5%.

Sri Mulyani mengatakan, tata kelola dan penegakan hukum di Indonesia menempati rangking terendah di dunia. Oleh karena itu, Rancangan Undang-Undang tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (RUU PPSK) menjadi penting.

Ia juga menjelaskan sektor keuangan merupakan bisnis yang landasannya adalah kepercayaan. Tanpa kepercayaan, sektor keuangan dinilai akan menjadi kerdil.

"Sektor keuangan merupakan bisnis yang landasannya kepercayaan, tanpa kepercayaan maka sektor keuangan akan menjadi kerdil," jelas Sri Mulyani).


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tok! RUU Omnibus Law Keuangan Siap Dibahas DPR & Pemerintah


(ayh/ayh)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading