Pekan Suram untuk Rupiah, Babak Belur 'Dihajar' Dolar AS

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
01 October 2022 11:30
Pekerja pusat penukaran mata uang asing menghitung uang Dollar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (AS). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah konsisten berada dikisaranRp 15.000/US$ sepanjang pekan ini. Pelemahan rupiah menyusul kenaikan tajam indeks dolar AS.

Di pasar spot,rupiah melemah 1,3% secara mingguan terhadap dolar AS dan ditutup di Rp 15.225/US$. Di saat yang sama indeks dolar AS sempat tembus level tertinggi tahun ini di 114.

Hampir semua aset keuangan berguguran di pekan ini, tidak hanya saham saja tetapi juga obligasi hingga komoditas.

Pemicunya masih sama yaitu kebijakan Fed yang hawkish. Bank sentral AS tersebut memproyeksikan kenaikan suku bunga acuan masih akan berlanjut hingga tahun depan.

Meskipun suku bunga acuan AS dinaikkan 75 basis poin (bps) sesuai dengan ekspektasi pasar, tetapi proyeksi Fed soal arah suku bunga cukup mengejutkan karena bertentangan dengan ekspekasi banyak pihak yang memprediksi Fed akan memangkas suku bunga acuan tahun depan.

Proyeksi Fed tersebut pun seolah menjadi bahan bakar untuk dolar AS menguat. Indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback menguat tajam bahkan sampai tembus 114 yang menjadi posisi tertinggi untuk tahun ini dan dalam dua dekade terakhir.

Penguatan dolar AS menelan korban yaitu mata uang lain dan juga aset seperti emas. Rupiah pun tak luput kena libas keperkasaan dolar AS.

Kendati Bank Indonesia (BI) sudah mengerek suku bunga acuan naik 75 basis poin (bps) sejak bulan Agustus, tetapi rupiah seolah masih enggan beranjak dari level Rp 15.000/US$.

Bank Indonesia (BI) memandang pelemahan rupiah lebih banyak disebabkan oleh sentimen eksternal yang kurang mendukung.

Pengetatan moneter di AS membuat dolar AS menguat signifikan. Mata uang negara lain pun berguguran dibuatnya.

Ini merupakan fenomena yang mengglobal dan bukan hanya rupiah saja yang melemah. Secara fundamental BI memandang rupiah masih solid didukung oleh surplus neraca dagang yang berlanjut dan potensi transaksi berjalan yang surplus.

Namun di sisi lain, aksi jual investor asing di pasar keuangan RI juga semakin memperkeruh suasana. Di pasar saham saja asing net sell jumbo mencapai Rp 3,08 triliun minggu ini.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Rupiah Perkasa, Giliran Dolar AS Bertekuk Lutut


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading