APBN Kita Agustus 2022

Dana Asing Kabur Rp148 T, Begini Penjelasan Sri Mulyani!

Market - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
26 September 2022 16:23
Menteri Keuangan Sri Mulyani Saat Konferensi Pers APBN KITA September 2022. (Tangkapan Layar via Youtube Kemenkeu) Foto: Menteri Keuangan Sri Mulyani Saat Konferensi Pers APBN KITA September 2022. (Tangkapan Layar via Youtube Kemenkeu)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) menciptakan gejolak pasar keuangan global. Aliran modal bergerak keluar alias outflow dari negara berkembang, termasuk dari Indonesia.

"Dengan statement hawkish dari federal reserve, pasti akan menimbulkan guncangan ke seluruh dunia," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers APBN Kita, Senin (26/9/2022)

The Fed memang sudah kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin (bps). Kini suku bunga acuan AS yaitu Federal Fund Rates (FFR) berada di 3,25%.

Namun yang mengejutkan adalah proyeksi dan arah suku bunga ke depan yang dirilis oleh Komite Pengambil Kebijakan (FOMC). Dalam proyeksinya, FFR bisa sampai 4,4% akhir tahun ini.

"Powel yang mengatakan akan terus menaikan suku bunga-nya sampai bisa mengendalikan inflasi," imbuhnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Saat Konferensi Pers APBN KITA September 2022. (Tangkapan Layar via Youtube Kemenkeu)Foto: Menteri Keuangan Sri Mulyani Saat Konferensi Pers APBN KITA September 2022. (Tangkapan Layar via Youtube Kemenkeu)
Menteri Keuangan Sri Mulyani Saat Konferensi Pers APBN KITA September 2022. (Tangkapan Layar via Youtube Kemenkeu)

Aliran modal keluar menjadi tak terhindarkan. Sementara pada rentang waktu 19-22 September, dana asing yang kabur sebanyak Rp 3,80 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Sementara dari awal tahun hingga 22 September 2022 dana asing yang kabur mencapai Rp 148,11 triliun di pasar SBN.

"Tentu melihat dinamika ini perlu diwaspadai, volatilitas ini memicu outflow terutama bond holder," terang Sri Mulyani.

Kepemilikan asing pada SBN Indonesia kini tersisa 14,7%. Turun tajam dibandingkan 2019 yang mencapai 38%. Kondisi menimbulkan dampak positif dan negatif bagi perekonomian nasional.

"Di satu sisi menimbulkan stabilitas, karena tidak mudah terguncang dengan outflow. Namun bond holder oleh perbankan dan BI," pungkasnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bye! Surat Utang RI Tak Lagi Dikuasai Asing


(mij/mij)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading