Mayday Mayday! Harga Batu Bara Ambrol 7% Dalam 2 Hari

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
25 September 2022 10:30
A pile of coal is seen at a warehouse of the Trypillian thermal power plant, owned by Ukrainian state-run energy company Centrenergo, in Kiev region, Ukraine November 23, 2017. Picture taken November 23, 2017. REUTERS/Valentyn Ogirenko Foto: REUTERS/Valentyn Ogirenko

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara tercatat melemah di pekan ini akibat ambrol dalam 2 hari beruntun. Padahal sebelumnya sempat naik tajam hingga menyentuh US$ 442,5/ton pada Rabu (21/9/2022), melansir data Refinitiv.

Namun, harga batu bara acuan Ice Newcastle ini justru berbalik ambrol hingga 7,3% dalam 2 hari setelahnya. Alhasil, sepanjang pekan ini harga batu bara tercatat melemah 4,16%.

Melemahnya harga batu bara disebabkan penurunan harga gas alam serta kesimpangsiuran kebijakan embargo batu bara Rusia.

Gas alam dan batu bara merupakan barang substitusi, sehingga pergerakan harganya cenderung seirama. Negara-negara Uni Eropa belum sepakat mengenai kelanjutan sanksi larangan impor batu bara Rusia.

Seperti diketahui, anggota Uni Eropa tengah mengusulkan sejumlah proposal untuk menurunkan harga gas.Salah satunya adalah dengan mengenakan pajak kepada produsen listrik yang ongkos produksinya rendah.

Batu bara awalnya dikecualikan. Uni Eropa bahkan berencana mengizinkan impor batu bara di luar kawasan. Namun, laporan terbaru mengatakan jika Uni Eropa tetap melarang impor batu bara Rusia.

Selain itu, isu resesi juga menekan harga batu bara dan komoditas energi lainnya. Saat resesi terjadi maka permintaan komoditas energi untuk industri tentunya akan menurun.

Bank dunia mengatakan perekonomian dunia akan mengalami resesi di 2023, akibat suku bunga tinggi.

"Tiga ekonomi terbesar dunia-Amerika Serikat, China, dan kawasan Eropa- telah melambat tajam," tulisnya dalam sebuah studi baru, dikutip Jumat (16/9/2022).

Bank Dunia yakin pukulan moderat sekalipun akan memicu resesi global. Bank Dunia pun memperkirakan kenaikan suku bunga akan terus dilakukan hingga tahun depan.

Bank Dunia mengingatkan kenaikan suku bunga yang lebih tinggi ini dapat memperlambat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global. Pada 2023, PDB dunia diperkirakan bisa susut menjadi 0,5% setelah terkontraksi 0,4%. Menurut Bank Dunia, ini akan memenuhi definisi teknis dari resesi global.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Gas dari Negaranya Putin Seret, Batu Bara Jadi Incaran


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading