Harga Minyak Jeblok ke Level Sebelum Perang, Ada Apa?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
17 July 2022 11:30
Foto: Reuters Foto: Reuters

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah jeblok lagi di pekan ini akibat isu resesi. Dengan demikian, baik minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) dan Brent membukukan penurunan dalam 4 dari 5 pekan terakhir.

Melansir data Refinitiv, minyak WTI merosot hingga 7,2% ke US$ 97,59/barel, kemudian Brent jeblok 5,5% ke US$ 101,16/barel.

WTI bahkan sempat menyentuh US$ 90/barel yang merupakan level terendah sejak 25 Februari, atau sehari setelah perang Rusia - Ukraina dimulai yang membuat harga energi melambung tinggi.

Sementara itu, minyak jenis Brent bahkan sempat menyentuh US$ 94/barel, terendah sejak 21 Februari, atau sebelum perang dimulai.

Perang Rusia-Ukraina sebelumnya membuat minyak Brent melesat nyaris mencapai US$ 140/barel pada 7 Maret lalu, yang merupakan level tertinggi sejak Juli 2008. Namun, setelahnya Brent terus menurun.

Sejak mencapai level tertinggi nyaris 14 tahun tersebut hingga pekan ini, Brent sudah jeblok lebih dari 27%.

Isu resesi yang makin menguat akibat tingginya inflasi di berbagai negara membuat harga minyak mentah jeblok. Ketika resesi terjadi, maka aktivitas bisnis akan menurun, permintaan minyak mentah juga akan berkurang.

Amerika Serikat (AS) menjadi negara yang diperkirakan paling dekat mengalami resesi sebelum menyebar ke negara lainnya.

Inflasi di AS pada Juni kembali meroket 9,1% year-on-year (yoy), jauh lebih tinggi dari bulan sebelumnya 8,6% dan perkiraan analis 8,8%.

Dengan inflasi yang tinggi, bank sentral AS (The Fed) diperkirakan akan menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin menjadi 2,5% - 2,75%, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya 75 basis poin.

Makin tinggi suku bunga, tentunya resesi akan makin cepat terjadi.

Meski demikian, penurunan harga minyak mentah masih tertahan, bahkan rebound pada Jumat (15/7/2022) lalu setelah Arab Saudi diperkirakan tidak buru-buru menaikkan tingkat produksinya.

Presiden AS Joe Biden mendarat di Jeddah pada Jumat lalu, dan diperkirakan meminta Arab Saudi untuk meningkatkan kapasitas produksinya.

Tetapi, analis melihat Arab Saudi dan anggota OPEC lainnya tidak memiliki kapasitas cadangan untuk segera menaikkan produksi minyak mentah.

Perhatian tertuju pada pertemuan OPEC+ pada 3 Agustus mendatang, dan Amerika Serikat diperkirakan akan memastikan komitmen OPEC untuk menaikkan produksInya dalam beberapa bulan ke depan.

Kenaikan produksi tentunya bisa menurunkan harga minyak mentah yang menguat harga energi menurun. Sehingga tekanan inflasi diharapkan bisa mereda.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Harga Minyak Meroket, Saham Produsennya Kompak Melesat


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading