Wall Street Dibuka Variatif Jelang Rilis Risalah Rapat Fed

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
06 July 2022 21:11
In this photo provided by the New York Stock Exchange, trader Americo Brunetti works on the floor, Thursday, March 25, 2021. Stocks are wobbling in afternoon trading Thursday as a slide in technology companies is being offset by gains for banks as bond yields stabilize.(Courtney Crow/New York Stock Exchange via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) bergerak variatif pada pembukaan perdagangan Rabu (6/7/2022), setelah bursa saham AS mayoritas menguat kemarin didukung oleh penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.

Dow Jones menguat 47 poin (+0,2%) di pembukaan dan selang 30 menit surut menjadi minus 40,01 poin (-0,13%) ke 30.927,81. Sementara itu, S&P 500 naik 13,86 poin (+0,36%) ke 3.845,25 dan Nasdaq tumbuh 46,05 poin (+0,41%) ke 11.368,29.

Saham defensif kembali diburu, seperti Merck yang menjadi top gainer dengan reli 1% lebih, sementara Walmart melompat 1,4%.


Kemarin indeks Dow Jones terkoreksi 129 poin pada Selasa (5/7) yang merupakan hari pertama perdagangan pekan ini setelah libur untuk memperingati hari kemerdekaan. Indeks S&P 500 reli dari penurunannya 2% di akhir perdagangan dan ditutup naik tipis 0,2%. Nasdaq melesat 1,75%.

Kekhawatiran terhadap resesi kembali meningkat setelah acuan yield obligasi tenor 10 tahun jatuh di bawah yield obligasi tenor 2 tahun. Hal tersebut mengidentifikasikan adanya kurva yang terbalik yang memberi sinyal adanya potensi penurunan ekonomi hingga ke jurang resesi.

Sementara itu, harga minyak dunia anjlok di bawah US$ 100/barel kemarin, terdampak dari meningkatnya kecemasan terhadap perlambatan ekonomi. Saham energi menjadi pemimpin penurunan mayoritas saham kemarin. Saham sektor energi ambles 4%.

Padahal, sektor energi merupakan sektor yang berkinerja terbaik dari indeks S&P 500 pada paruh pertama tahun ini. Acuan indeks S&P 500 telah mengalami paruh pertama terburuknya sejak 1970.

Namun, analis memprediksikan resesi yang terjadi akan ringan. Pada Selasa (5/7), analis Credit Suisse menilai bahwa AS dapat menghindari resesi setelah menurunkan harga target indeks S&P 500 pada akhir tahun ini, sebagai dampak dari biaya modal yang lebih tinggi daripada penilaian saham.

"[Pasar] telah bersiap untuk [resesi], dan saat ini mungkin telah menerimanya, seperti: 'Mari kita selesaikan, kita akan mengalami resesi, mari kita lakukan dan mulai dari awal lagi'," tutur Analis Yardeni Ed Yardeni dikutip dari CNBC International.

Dia juga menambahkan bahwa pasar mulai melihat ke tahun depan yang mungkin menjadi tahun pemulihan dari situasi resesi ini. Meski begitu, Yardeni menilai bahwa ada potensi AS mengalami resesi ringan.

Ketua Analis NewEdge Wealth Cameron Dawson memprediksikan acuan indeks S&P 500 dapat menyentuh kisaran level 3.400-3.500 yang menjadi level tertinggi sebelum pandemi Covid-19. Pekan ini, investor masih menantikan rilis risalah pertemuan dari Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang akan dirilis siang hari ini waktu setempat.

Selain itu, investor masih akan menunggu rilis Purchasing Managers' Index (PMI) dari Institute for Supply Management (ISM), rilis data pekerjaan baru dan survei pergantian tenaga kerja (JOLTS) yang dijadwalkan akan dirilis pada pukul 10:00 pagi waktu setempat.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Wall Street Ambles di Pembukaan, Dow Anjlok 810 Poin


(ags/ags)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading