Isu Resesi Bikin Kurs Euro "Remek", Mundur 20 Tahun

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
05 July 2022 17:25
FILE PHOTO: A picture illustration of euro banknotes, April 25, 2014.    REUTERS/Dado Ruvic/File Photo Foto: Ilustrasi Euro (REUTERS/Dado Ruvic)

Jakarta, CNBC Indonesia - Isu resesi terus membayangi pasar finansial global, tukar euro jeblok melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (5/7/2022) hingga menyentuh level terlemah dalam 20 tahun terakhir.

Melansir data Refinitiv, pada pukul 16:33 WIB, euro merosot hingga 1,14% ke US$ 1,0305 yang merupakan level terendah sejak 26 Desember 2022. Sepanjang tahun ini pelemahanya nyaris 10%. 

Tidak hanya melawan dolar AS, berhadapan dengan rupiah euro juga jeblok 1% ke Rp 15.439/EUR, dan sepanjang tahun ini turun 5%.


Inflasi di zona euro yang terus meroket hingga menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah membuat euro tertekan. Meski kenaikan inflasi akan membuat bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) menaikkan suku bunga, euro masih tetap merosot.

Sebabnya, ketika suku bunga dinaikkan, bahkan jika semakin agresif maka risiko resesi akan semakin besar.

Inflasi berdasarkan consumer price index (CPI) di zina euro pada Juni melesat 8,6% year-on-year (yoy), yang merupakan rekor tertinggi sepanjang masa, dan lebih tinggi dari ekspektasi ekonom yang disurvei Reuters sebesar 8,4%.

ECB di bawah pimpinan Christine Lagarde, menjadi salah satu bank sentral utama yang masih mempertahankan suku bunga rendah, saat yang lainnya sudah menaikkan bahkan beberapa sangat agresif.

Tetapi pada Juni lalu, Lagarde secara terang-terangan mengatakan akan menaikkan suku bunga di bulan ini.

Suku bunga acuan ECB saat ini 0%, deposit facility -0,5% dan lending facility 0,25%.

Bulan ini, Dewan Gubernur ECB rencananya akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dan akan dilanjutkan lagi di bulan September.

Dengan inflasi yang terus menanjak, ada kemungkinan ECB akan lebih agresif lagi. Hal ini membuat risiko resesi semakin besar.

Inflasi yang tinggi menggerus daya beli masyarakat, dan kenaikan suku bunga bisa memperlambat ekspansi dunia usaha. Alhasil resesi di depan mata.

Dari 25 ekonom yang disurvei Reuters, sebanyak 19 orang memperkirakan dampak inflasi akan parah, dua orang memprediksi sangat parah, dan sisanya mengatakan berdampak ringan.

Selain itu, para ekonom yang disurvei juga memperkirakan zona euro akan mengalami resesi dalam 12 bulan ke depan, dengan probabilitas sebesar 30%.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dolar AS 'Sakti Mandraguna', Ini Sederet Korbannya!


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading