Kacau! IHSG Jeblok 3,5%, Rupiah Nyaris Rp 15.000/US$

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
04 July 2022 10:54
Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (9/5/2022). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar finansial Indonesia bergejolak pada perdagangan Senin (4/7/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) nyungsep hingga ke bawah 6.600, sementara rupiah mendekati lagi Rp 15.000/US$. Isu dunia yang akan mengalami resesi membuat sentimen pelaku pasar memburuk, apalagi dari dalam negeri juga sudah muncul tanda-tanda pelambatan ekonomi.

Melansir data Refinitiv, IHSG sempat jeblok hingga 3,5% ke 6.559,637. Sementara rupiah melawan dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 14.955/US$, melemah 0,13% di pasar spot.

Survei terhadap chief financial officer (CFO) yang dilakukan CNBC International awal Juni lalu menunjukkan sebanyak 68% melihat perekonomian AS diprediksi akan mengalami resesi di semester I-2023.


Tidak hanya itu, Citigroup bahkan memprediksi perekonomian global akan mengalami resesi dalam 18 bulan ke depan, dengan probabilitas sebesar 50%. Citigroup melihat, dengan inflasi yang sangat tinggi, maka daya beli masyarakat yang merupakan motor penggerak perekonomian akan tergerus.

Alhasil, sentimen pelaku pasar pun memburuk. Apalagi dari dalam negeri sudah ada tanda-tanda pelambatan ekonomi. Ekspansi sektor manufaktur mulai melambat, bahkan nyaris mengalami kontraksi.

S&P Global mengumumkan aktivitas manufaktur yang diukur dengan Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia periode Juni 2022 berada di 50,2. PMI menggunakan angka 50 sebagai tolok ukur. Kalau masih di atas 50, maka artinya berada di zona ekspansi.

Akan tetapi, pencapaian Juni turun dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 50,8. Skor PMI manufaktur Indonesia memang sudah 10 bulan beruntun di atas 50, tetapi Juni menjadi yang terendah.

"PMI berada di posisi terendah selama periode ekspansi, hanya tipis di atas zona netral 50. Hanya ada sedikit perbaikan, yaitu di sektor kesehatan," ungkap laporan S&P Global.

Industri pengolahan merupakan kontributor terbesar produk domestik bruto (PDB) berdasarkan lapangan usaha. DI kuartal I-2022 kontribusinya lebih dari 19% dari total PDB. Sehingga, ketika sektor manufaktur berkontraksi, pastinya akan berdampak ke pelambatan pertumbuhan ekonomi.

Dampaknya, mayoritas saham big cap dengan bobot indeks besar ambrol pagi ini yang membuat IHSG merosot.

Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) ambles 6,49% dan terkena auto reject bawah (ARB). Perlu diketahui, saham GOTO memiliki bobot terbesar untuk IHSG sebesar 10%.

Selanjutnya ada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan bobot terbesar kedua juga melemah 2,76%.

Mayoritas saham bank kakap dengan nilai kapitalisasi besar juga mengalami hal yang sama. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) bahkan ambles lebih dari 3%.

Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga ikut melemah 3,73% pagi ini. Selanjutnya ada saham sektor konsumen yaitu PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) terkoreksi lebih dari 5%.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Market Focus: Rupiah Anjlok Saat IHSG Berbalik Menguat


(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading