Jokowi Bayar Utang RI Sampai Menyusut, Uangnya dari Mana?

Market - Linda Hasibuan, CNBC Indonesia
25 June 2022 20:30
Presiden Joko Widodo bersama Ketua DPR Puan Maharani, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Kepala Badan Otorita IKN Bambang Susantono, Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor, dan para pemred berfoto bersama berjalan di Titik Nol Ibu Kota Nusantara, Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur, Rabu 22 Juni 2022. (Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden.)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) belum lama ini melaporkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mengalami tren penurunan hingga April 2022.

Secara keseluruhan, utang mencapai di US$ 409,5 miliar pada April 2022. Dengan asumsi US$ 1 setara Rp 14.729, nilai ULN itu adalah Rp 6.031,52 triliun.

Angka itu turun dibandingkan dengan ULN bulan sebelumnya yang US$ 412,1 miliar (Rp 6.069,82 triliun). Secara tahunan, posisi ULN April 2022 terkontraksi 2,2% (yoy), lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi bulan sebelumnya sebesar 1% (yoy).


"Posisi ULN Pemerintah pada April 2022 tercatat sebesar 190,5 miliar dolar AS, turun dibandingkan dengan posisi ULN pada bulan sebelumnya sebesar 196,2 miliar dolar AS.

Secara tahunan, pertumbuhan ULN Pemerintah mengalami kontraksi sebesar 7,3% (yoy), lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi bulan sebelumnya yang sebesar 3,4% (yoy)," tulis Bank Indonesia (BI) dalam laporannya, yang dikutip Senin (20/6/2022)

Pemerintah yang membayar utang senilai US$ 1,9 miliar menjadi salah satu penyebab penurunan ULN. Dari total pembayaran tersebut, pokok utang tercatat sebesar US$ 1,576 miliar dan bunga sebesar US$ 374 juta.

Pembayaran Surat Berharga Negara (SBN) yang jatuh tempo mendominasi pembayaran utang tersebut. Berdasarkan data dari BI, nilai SBN jatuh tempo pada April sebesar US$ 1,32 miliar, dengan pokok sebesar US$ 1,025 miliar dan bunga sebesar US$ 295 juta.

Lancarnya pembayaran utang oleh pemerintah didorong oleh penerimaan negara yang terus membaik. Apalagi ada lonjakan harga komoditas internasional yang muncul bak 'durian runtuh'. Sehingga dalam empat bulan pertama tahun ini, APBN surplus sampai Rp 103,1 triliun atau 0,58% dari PDB.

"Salah satu berita baiknya dengan adanya kenaikan harga komoditas yang cukup tinggi harga minyak harga komoditas, seperti batubara, sawit dan sebagainya itu ternyata juga berdampak kepada membaiknya sisi penerimaan kita," ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Luky Alfirman kepada CNBC Indonesia.

"Jadi kalau kita lihat sampai dengan 4 bulan pertama sampai bulan April yaitu mengalami surplus, itu sangat jarang APBN bisa surplus sampai dengan 4 bulan pertama ini," terang Luky.

Pendapatan negara tercatat Rp 853,6 triliun dan belanja negara mencapai Rp 750,5 triliun. Keseimbangan primer dari APBN per April 2022 juga tercatat surplus hingga Rp 220,9 triliun. Pembiayaan turun menjadi Rp 142,7 triliun.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Utang Luar Negeri RI Turun! Jadi 'Cuma' Rp 6.031 Triliun


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading