Rugi Gegara Kripto? Tak Cuma Anda, Miliader Juga Jadi Korban

Market - Romys Binekasri, CNBC Indonesia
16 June 2022 08:15
Cover Topik, Fokus Chaos Pasar Kripto Foto: Cover Topik/Chaos Pasar Kripto/Edward Ricardo

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar kripto lagi-lagi terjerembab di zona merah untuk kedua kalinya sepanjang tahun ini. April hingga awal Mei lalu kejatuhan terjadi akibat jatuhnya harga dua koin digital besutan Terra yakni Terra Luna (LUNA) dan TerraUSD (UST).

Padahal, tahun 2022 baru menempuh setengahnya dan pasar kripto sudah mengalami kejatuhan yang cukup parah selama dua kali.

Investor pun hingga saat ini masih takut untuk kembali memburu aset kripto lantaran gejolak ekonomi makro dunia yang masih cukup besar, setelah inflasi AS pada Mei lalu kembali melonjak. Padahal sebelumnya, pelaku pasar berekspektasi bahwa inflasi AS pada bulan lalu akan melandai.


Bukan hanya investor ritel, para miliader juga mengalami kerugian parah akibat terjadinya crash kripto selama dua kali di paruh pertama 2022. Miliader tersebut di antaranya, pendiri Binance Changpeng Zhao, pendiri FTX Sam Bankman-Fried, dan CEO Galaxy Mike Novogratz.

Tak hanya para pendiri dan CEO perusahaan pertukaran kripto, banyak pihak yang pro-kripto seperti Presiden El Salvador Nayib Bukele dan CEO Microstrategy Inc. Michael Saylor juga bernasib sama yakni kekayaannya menyusut cukup besar.

Changpeng Zhao, pendiri bursa kripto terbesar di dunia yakni Binance pun mengalami kerugian yang amat besar akibat dari crash kripto selama dua kali di semester I tahun ini.

Kekayaan Zhao pun menyusut hingga 89,35% menjadi US$ 10,2 miliar atau setara dengan Rp 149,94 triliun per Senin, 13 Juni kemarin. Padahal saat Bitcoin menyentuh level tertinggi sepanjang masanya di November 2021, kekayaan Zhao sempat mencapai US$ 95,8 miliar atau setara dengan Rp 1.408,26 triliun dan sempat menjadi orang terkaya pertama dari industri kripto.

Nasib sial lainnya yakni Binance juga menjadi perusahaan yang sedang dipantau oleh penyelidik AS yang ingin mengendalikan industri kripto.

Selain Zhao, Bankman-Fried, CEO FTX juga bernasib sama, di mana kekayaannya tergerus hingga 41,06% menjadi US$ 8,9 miliar atau Rp 130,83 triliun, dari sebelumnya sempat mencapai US$ 15,1 miliar atau Rp 221,97 triliun.

Hal ini dapat mempengaruhi niatnya untuk berkontribusi dalam pesta politik Negeri Paman Sam pada 2024, di mana Bankman-Fried berencana menggelontorkan dana sebesar US$ 16 juta sebagai bentuk pendonor dana bagi partai Demokrat di AS.

CEO Galaxy, Novogratz juga mengalami penurunan kekayaan, dari sebelumnya saat Bitcoin menyentuh all time high (ATH) November tahun lalu sebesar US$ 13,7 miliar, kini hanya sebesar US$ 2,1 miliar, menyusut 84,67%.

Novogratz pun menyebut bahwa proyek blockchain Terra dianggap sebagai ide besar yang gagal.

Sementara itu, Winklevoss bersaudara yakni Cameron dan Tyler Winklevoss melihat kekayaan mereka masing-masing merosot menjadi US$ 3 miliar, dari masing-masing US$ 3,8 miliar saat Bitcoin mencetak ATH.

Winklevoss bersaudara merupakan pendiri bursa kripto Gemini, di mana pada bulan ini mereka akan memangkas sekitar 10% dari tenaga kerjanya.

Adapun di Coinbase Global Inc., bursa kripto terbesar ketiga di dunia membatalkan tawaran pekerjaan karena harga kripto yang terus memburuk.

Sang pendiri yakni Brian Armstrong dan Fred Ehrsam pernah memiliki kekayaan gabungan sebesar US$ 18,1 miliar. Namun kini, kekayaan keduanya menyusut menjadi US$ 2,1 miliar, karena saham Coinbase ambruk 79% sejak penawaran umum perdana (IPO) mereka.

Selain tujuh crazy rich dari pendiri bursa kripto tersebut, pendukung kripto seperti Michael Saylor, CEO Microstrategy Inc. pun menyuarakan hal yang sama. Dia sebelumnya pernah men-tweet "Dalam Bitcoin Kami Percaya" pada Senin kemarin, bersama dengan gambar baru dirinya dikelilingi oleh kilat.

Microstrategy, perusahaan perangkat lunak yang ia dirikan sempat mengalami kejatuhan dari nilai perusahaannya saat periode bubble dot-com pada 2000. Microstrategy mulai kembali membeli Bitcoin pada 2020.

Tak hanya Saylor yang bukan dari kalangan pendiri bursa kripto, Presiden El Salvador Nayib Bukele juga merasa terpukul dengan jatuhnya Bitcoin. Apalagi, Bukele merupakan pelopor diakuinya Bitcoin sebagai salah satu alat pembayaran di El Salvador.

Bukele juga menjadi panutan bagi negara-negara di Amerika Latin untuk mengakui keberadaan Bitcoin di negaranya.

Sekitar seminggu yang lalu merupakan peringatan satu tahun disahkannya Bitcoin sebagai mata uang yang legal di El Salvador. Pada saat itu, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 36.000.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dampak Perang Rusia-Ukraina Mulai Terasa, TPIA Merugi


(vap/vap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading