Dear Investor! Jangan Kaget Kalo Malam Ini Emas Balik Melesat

Market - Maesaroh, CNBC Indonesia
10 June 2022 18:10
Ilustrasi Emas Pegadaian. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Emas tidak berdaya pada pekan ini dan lebih sering berkutat di zona negatif. Pada perdagangan Jumat (10/6/2022) pukul 16:20 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.844,00 per troy ons. Melemah 0,19%.

Pelemahan emas hari ini kian memperpanjang tren negatif sang logam mulia. Pada pekan ini, emas hanya bergerak positif pada Selasa dan Rabu, selebihnya emas terus melemah.

Dalam sepekan, harga emas melemah 0,4% secara point to point. Dalam sebulan, harga emas masih menguat 0,3% sementara dalam setahun merosot 2,9%. Meski sedang tertekan, analis menyebut emas juga punya peluang berbalik melesat, khususnya jika data inflasi Amerika Serikat melambat.


Pelemahan emas salah satunya dipicu sikap pelaku pasar yang wait and see menunggu data inflasi. 

"Konsolidasi market sangat kuat menjelang pengumuman inflasi malam nanti. Laju inflasi akan sangat mempengaruhi kebijakan The Fed, terutama kebijakan setelah September," Stephen Innes, dari SPI Asset Management, seperti dikutip Reuters.

Inflasi AS menembus 8,3% (year on year/yoy) pada April tahun ini. Inflasi memang melandai dibandingkan Maret (8,5%) tetapi tetap ada di level tertinggi sepanjang 40 tahun terakhir.

Innes memperkirakan jika inflasi melonjak maka The Fed akan sangat agresif dalam menaikkan suku bunga. Kondisi ini membuat pergerakan emas menjadi berat.

"Emas bisa terus melemah ke kisaran US$ 1.800 per troy ons tetapi jika data inflasi melandai, emas bisa saja bergerak sebaliknya yaitu melesat naik," imbuhnya.

Pasar berekspektasi The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 50 bps pada Juni dan Juli tahun ini. Mereka juga memperkirakan ada peluang bagi The Fed untuk mengambil langkah serupa pada September jika inflasi tidak juga mereda.

Kenaikan The Fed akan melambungkan dollar Amerika Serikat (AS) dan yield surat utang pemerintah AS. Penguatan dollar AS membuat emas makin mahal sehingga kurang menarik. Sementara itu, meningkatnya yield surat utang pemerintah AS membuat emas tidak menarik karena emas tidak menawarkan imbal hasil.

"Kebijakan bank sentral yang hawkish, penguatan dollar AS, dan kenaikan real rate membuat kilau emas pudar. Berkurangnya support dari kebijakan fiskal dan moneter juga menjadi sentimen negatif bagi emas," tutur ANZ, seperti dikutip dari Reuters.

Sebagai informasi, bank sentral Eropa (ECB) mengumumkan mereka akan mengakhiri pembelian obligasi dan menaikkan suku bunga acuan pada Juli mendatang. Keputusan ini sekaligus mengakhiri kebijakan longgar mereka. Sejak bulan ini, The Fed juga telah melakukan normalisasi neraca (balance sheet).

Pembelian surat berharga selama pandemi membuat neraca The Fed bengkak menjadi US$ 9 triliun. Pada Juni, Juli, dan Agustus, neraca itu akan dikurangi masing-masing US$ 47,5 miliar per bulan. Mulai September, nilai pengurangannya menjadi US$ 90 miliar per bulan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Harga Emas Naik Sih, Tapi Tipiiisss...


(mae/mae)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading