Balikan Keadaan, BUMI Catat Laba US$ 43,25 juta di Kuartal I

Market - rahajeng kusumo, CNBC Indonesia
01 June 2022 10:01
Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). Pemerintah memutuskan untuk menyetop ekspor batu bara pada 1–31 Januari 2022 guna menjamin terpenuhinya pasokan komoditas tersebut untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN dan independent power producer (IPP) dalam negeri. Kurangnya pasokan batubara dalam negeri ini akan berdampak kepada lebih dari 10 juta pelanggan PLN, mulai dari masyarakat umum hingga industri, di wilayah Jawa, Madura, Bali (Jamali) dan non-Jamali. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan laba US$ 43,25 juta pada kuartal I-2022, membalikkan kerugian dari periode yang sama tahun lalu senilai US$ 11,67 juta. Lonjakan laba ini disebabkan oleh peningkatan pendapatan sebesar 83% menjadi US$ 349,87 juta, dari sebelumnya US$ 191,25 juta.

Pada kuartal I-2022, produsen batu bara terbesar ini mencatatkan beban pokok pendapatan meningkat menjadi US$ 294,29 juta karena efek peningkatan Royalti menjadi 28%.


"BUMI selalu memastikan yang terbaik untuk menjaga produksi mendekati normal seiring dengan menurunnya pandemi Covid-19. Hujan deras dan efek La Nina di area pertambangan berimbas pada penurunan produksi kuartal I-2022," kata Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava dalam siaran resmi, Rabu (1/6/2022).

TercatatĀ produksi batu bara perusahaan turun 16% menjadi 16,3 juta ton pada kuartal I-2022, dibandingkan 19,3 juta ton pada kuartal I-2021. Meski demikian, harga jual rata-rata meningkat 59% dari US$ 53,2 per ton di 2021, menjadi US$ 84,5 per ton. Margin usaha perusahaan tercatat 18,9% pada periode ini.

"Peningkatan ini sejalan dengan pemulihan harga batu bara global dan tren bullish saat ini dipicu oleh ketidakseimbangan pasokan, dan telah membawa harga batu bara ke level tertinggi dalam 10 tahun," kata dia.

BUMI juga tercatat mencatat pembayaran utang pokok dan bunga Tranche A dengan total US$ 613 juta hingga April 2022. Dia mengharapkan membaiknya sektor batu bara dan tren kenaikan harga bisa berlanjut pada kuartal II-2022 sehingga dapat meningkatkan kinerjanya.

Untuk tahun ini, perusahaan menargetkan produksi dari anak usahanya Kaltim Prima Coal (KPC)sebesar 55-57 juta ton, dan Arutmin Indonesia 26-29 juta ton. Sementara untuk harga KPC ditarget berkisar US$ 120-150 per ton, dan Arutmin US$ 80-100 per ton

"Kami berharap dapat meningkatkan kinerjanya secara signifikan di 2022, meskipun masih terdapat berbagai macam tantangan baik global maupun domestik yang mempengaruhi pemulihan ekonomi Indonesia," ujar Dileep.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sukses Implementasi GCG, BUMI Raih Top 50 Mid Cap Company


(rah/rah)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading