Internasional

Inggris Terancam Resesi karena Inflasi, Poundsterling Bye!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
20 May 2022 21:00
FILE PHOTO: Pound Sterling notes and change are seen inside a cash resgister, Septem,ber 21, 2018. REUTERS/Phil Noble/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan harga-harga semakin menggila di Eropa. Inggris misalnya, mengalami inflasi yang sangat tinggi hingga negeri Ratu Elizabeth tersebut kini terancam mengalami resesi.

Alhasil, para trader menumpuk posisi jual (short) poundsterling sehingga terancam merosot lebih dalam. Berdasarkan data Refinitiv, poundsterling sudah jeblok 7,8% melawan dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang 2022 hingga sore ini, berada di kisaran US$ 1,2470/GBP.

Melawan rupiah, poundstering sepanjang tahun ini juga jeblok sekitar 5,2% di kisaran Rp 18.270/GBP, sore tadi. Bahkan pada pekan lalu, nilainya sempat menyentuh Rp 17.750/GBP, terendah dalam nyaris 2 tahun terakhir.


Inflasi di Inggris saat ini berada di level tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Data dari Biro Statistik Inggris menunjukkan inflasi di bulan April tumbuh 9% year-on-year (yoy).

Guna meredam kenaikan inflasi tersebut, bank sentral Inggris (Bank of England/BoE) sudah menaikkan suku bunga sebanyak 4 kali di tahun ini, termasuk di awal bulan ini hingga menjadi 1%.

Namun, langkah agresif BoE di bawah pimpinan Gubernur Andrew Bailey masih belum menunjukkan hasil. Inflasi masih terus menanjak yang membuat Inggris terancam resesi.

Menaikkan suku bunga memang menjadi instrumen pamungkas bank sentral untuk meredam inflasi. Tetapi semakin tinggi suku bunga, maka pertumbuhan ekonomi akan jadi korban.

Kenaikan suku bunga acuan akan mengerek suku bunga kredit, hal ini akan berdampak melambatnya ekspansi dunia usaha hingga konsumsi masyarakat. Alhasil, pertumbuhan ekonomi akan terpukul, apalagi, jika suku bunga tinggi tetapi inflasi tak kunjung melandai, maka ancaman resesi semakin nyata.

Sebelumnya, saking tingginya inflasi, CNBC International melaporkan sekitar seperempat warga Inggris dilaporkan khawatir tidak akan mampu memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan dan energi. Sementara itu survei yang dilakukan Ipsos dan Sky News terhadap 2.000 warga Inggris menunjukkan sebanyak 89% khawatir krisis tingginya biaya hidup yang akan berdampak ke negara secara keseluruhan dalam enam bulan ke depan.

Gubernur Bailey juga telah memperingatkan perekonomian Inggris akan mengalami kontraksi. Bahkan, kata dia, "sangat dalam" di kuartal IV-2022.

Buruknya outlook perekonomian Inggris membuat para trader terus menambah posisi short poundsterling. Data dari Commodity Futures Trading Commission (CFTC), pada 10 Mei posisi short poundsterling mencapai 128.000 kontrak, dan hanya 32.000 kontrak yang mengambil posisi beli (long). Semakin besar posisi short, maka risiko kemerosotan poundsterling akan semakin besar.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Di Eropa, Rupiah Berjaya 3 Hari Beruntun! Ini Pemicunya


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading