Shanghai Cabut Lockdown, Harga Minyak Nanjak!

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
20 May 2022 08:35
Warga berbelanja sayuran di pasar basah pada 17 Mei 2022 di Shanghai, China. Shanghai pada dasarnya telah memutus transmisi komunitas COVID-19 di 15 distrik dan meluncurkan rencana tiga fase untuk memulihkan produksi dan kehidupan normal. (Foto oleh Tian Yuhao/via Getty Images)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia naik tajam. Maklum, harga si emas hitam sempat ambles dua hari beruntun sehingga menciptakan ruang technical rebound.

Kemarin, harga minyak jenis brent ditutup di US$ 112,04/barel. Melonjak 2,69% dari posisi penutupan hari sebelumnya sekaligus jadi yang tertinggi sejak 6 Mei.

Sebelumnya, harga brent sempat anjlok selama dua hari perdagangan beruntun. Dalam dua hari tersebut, harga terpangkas 4,49%.


Sementara yang jenis light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) harganya US$ 112.21/barel. Naik 2,39%.

Seperti brent, harga light sweet pun sempat melemah dua hari berturut-turut. Selama dua hari tersebut, harga berkurang 4,04%.

"Pasar saat ini sangat rentan. Investor terus mencari berita dari jam ke jam hari ke hari, dan kerap bereaksi berlebihan," tegas Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates yang berbasis di Houston, Amerika Serikat (AS), seperti dikutip dari Reuters.

Sentimen yang sedang menjadi sorotan kali ini adalah rencana pelonggaran karantina wilayah (lockdown) di China. Sudah sekitar 1,5 bulan wilayah Shanghai (pusat ekonomi dan keuangan Negeri Tirai Bambu) harus 'dikunci' akibat penyebaran virus corona.

Tidak hanya Shanghai, berbagai wilayah pun menerapkan lockdown karena negara yang dipimpin oleh Presiden Xi Jinping itu memerangi virus corona tanpa toleransi. Zero tolerance, ada kluster penularan langsung lockdown.

Namun kini situasi sudah membaik. Kasus positif harian turun sehingga pemerintah berani membuka 'keran' aktivitas dan mobilitas warga.

Mulai pekan ini, pemerintah daerah Shanghai sudah mengizinkan perkantoran untuk kembali dibuka. Karyawan sudah boleh bekerja dari kantor.

Pembukaan ini dilakukan secara bertahap. Untuk fase pertama, izin work from office diberikan kepada 864 perusahaan.

Perkembangan di China membuat pelaku pasar berseri-seri. Sebab, ada harapan konsumsi energi di China akan kembali naik seiring pelonggaran lockdown. Permintaan minyak pun otomatis akan terungkit.

Permintaan di China akan sangat menentukan harga minyak. China adalah konsumen minyak terbesar kedua dunia, hanya kalah dari AS.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Omicron Jadi Omi-Gone, Harga Minyak Melesat!


(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading