Ekonomi China Tertekan, Mayoritas Bursa Asia Malah Menguat

Market - Tim Riset, CNBC Indonesia
16 May 2022 18:05
A man paues in front of an electric screen showing Japan's Nikkei share average outside a brokerage in Tokyo, Japan, August 5, 2019.   REUTERS/Issei Kato

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia-Pasifik ditutup mayoritas menguat pada perdagangan Senin (16/5/2022) awal pekan ini, setelah sebelumnya menjalani perdagangan bak 'roller coaster' sepanjang pekan lalu.

Hari ini investor tampaknya memperhatikan data ekonomi terbaru dari China yang merupakan ekonomi terbesar kedua dunia. Investor pada saat bersamaan juga terus menilai dampak dari inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih tinggi pada April lalu.

Dua bursa utama Asia yang mengalami pelemahan ada bursa domestik China yakni Shanghai Composite yang terkoreksi 0,34%, sedangkan indeks utama bursa Korea Selatan KOSPI tertekan 0,29%.


Adapun bursa utama Asia lainnya seperti Jepang, Hong Kong, Australia, Singapura dan India tercatat ditutup menguat hari ini.

Indeks Nikkei menguat 0,45%, sedangkan Indeks Hang Seng Hong Kong ditutup terapresiasi 0,26%. Indeks negara tetangga Straits Times Singapura menguat 0,82%, dengan indeks ASX 200 Australia harganya naik 0,25%.

Sementara itu, pasar modal Indonesia hari ini libur dalam rangka memperingati Hari Raya Tri Suci Waisak. Pekan lalu bursa domestik seminggu penuh ditutup di zona merah.

Sebagian besar bursa utama Asia masih mampu ditutup menguat meskipun China melaporkan data ekonomi yang cukup mengecewakan dari ekspektasi pasar.

Penjualan ritel China untuk April anjlok 11,1% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, lebih parah dari perkiraan analis yang hanya turun 6,1%, jika mengacu pada jajak pendapat Reuters. Sementara produksi industri anjlok 2,9% dari periode yang sama tahun 2021.

Sebanyak 31 kota besar di China mengalami kenaikan pada tingkat pengangguran ke level tertinggi di 6,7% pada bulan April, menurut data setidaknya hingga 2018.

Meski demikian, penurunan ekonomi tampaknya sudah diantisipasi sehingga tidak serta merta membuat para investor ketakutan. Apalagi setelah Perintah Shanghai mengatakan pada hari Minggu (15/5) bahwa beberapa bisnis akan mulai melanjutkan operasi di dalam toko, seperti yang diwartakan Reuters.

"Risiko dari perlambatan China adalah salah satu alasan utama sentimen buruk di pasar ekuitas," kata Masayuki Kichikawa, kepala strategi makro di Sumitomo Mitsui Asset Management di Tokyo.

"Pada saat yang sama, kita mungkin mendekati puncak dalam hal kekhawatiran [terhadap situasi di] China," katanya.

Sementara itu dorongan untuk pergerakan positif bursa Asia salah satunya datang dari bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, yang kompak berakhir melonjak pada perdagangan Jumat (13/5/2022), memangkas kerugian dari pekan sebelumnya dan mencegah indeks S&P 500 jatuh ke wilayah bear market (zona penurunan).

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup 466,36 poin lebih tinggi atau melonjak 1,47% ke 32.196,66. Hal serupa terjadi, indeks S&P 500 melesat 2,39% menjadi 4.023,89 dan Nasdaq Composite lompat 3,82% ke level 11.805.

Indeks S&P 500 pada hari Jumat (13/5) menjadi hari terbaiknya sejak 4 Mei 2022, sedangkan Nasdaq membukukan kenaikan terbesar secara harian sejak November 2020.

Pekan lalu, kekhawatiran atas inflasi dan prospek ekonomi telah membebani sentimen investor global dalam beberapa hari terakhir dan hal ini turut menjadi pemberat bursa Asia-Pasifik.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Canggih! Saham Teknologi Membuat Bursa China Terbang


(fsd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading