Andai Perdagangan Dibuka Hari Ini, Rupiah Bisa Merana Lagi!

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
16 May 2022 15:15
Ilustrasi Rupiah dan Dollar di teller Bank Mandiri, Jakarta, Senin (07/5). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih melemah. Rupiah melemah 0,32 % dibandingkan penutupan akhir pekan lalu. Harga jual dolar AS di  bank Mandiri Rp. 14.043. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdagangan mata uang rupiah pada Senin (16/5/2022) ini tidak dibuka karena sedang libur nasional memperingati Hari Raya Tri Suci Waisak.

Namun jika rupiah dibuka pada hari ini, ada kecenderungan mata uang Garuda akan kembali melemah. Hal itu terlihat dari mata uang Asia yang secara mayoritas mengalami pelemahan di hadapan dolar Amerika Serikat (AS).

Hanya satu mata uang Asia yang berhasil melawan sang greenback, yakni yen Jepang.


Dolar vs Mata Uang Asia

Pada perdagangan Jumat pekan lalu, berdasarkan data dari Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,1% ke level Rp 14.610/US$.

Capital outflow yang terjadi dari dalam negeri membuat rupiah tertekan. Sepanjang perdagangan akhir pekan lalu, investor asing tercatat melakukan penjualan saham sebesar Rp 9,11 triliun. Pada pasar reguler, penjualan bersih yang dilakukan investor asing mencapai Rp 8,41 triliun.

Aliran dana asing yang keluar bahkan lebih deras lagi di obligasi pemerintah di pasar sekunder. Data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menunjukkan dalam 3 hari perdagangan saja pada 9 - 11 Mei, dana yang terbang dari pasar obligasi sudah lebih dari 10 triliun.

Besarnya capital outflow tersebut menyusul Rp 20 triliun yang terjadi sepanjang bulan April.

Meski demikian, pelemahan rupiah di pekan lalu dikatakan layak diapresiasi, sebab tidak terlalu besar.

"Rupiah harus diapresiasi, biasanya risk off global itu membuat rupiah kita sangat tertekan tapi kali ini tidak separah itu," ungkap Heriyanto Irawan, Ekonom Verdhana Sekuritas dalam webinar pada Jumat (13/5/2022) lalu.

Menurut Heriyanto, alasan cukup tangguhnya rupiah adalah investor menilai fundamental ekonomi Indonesia kini bagus. Terlihat dari pemulihan ekonomi yang berlanjut, inflasi terkendali, defisit transaksi berjalan yang rendah dan kebijakan fiskal serta moneter yang kredibel. Investor pun tidak mengangkut dana banyak keluar.

"Investor lokal dan asing cukup apresiasi terhadap Indonesia," imbuhnya.

Di sisi lain, lonjakan harga komoditas membuat ekspor Indonesia meningkat. Maka dari itu pasokan dolar AS di dalam negeri masih cukup. Heriyanto memandang pelemahan nilai tukar bersifat sementara.

"Kami berharap ini seketika karena masalahnya global bukan fundamental," tegas Heriyanto.

Cadev Menurun

Bank Indonesia (BI) pada Jumat pekan lalu melaporkan posisi cadangan devisa (cadev) per akhir Maret 2022 sebesar US$ 135,7 miliar, jeblok US$ 3,4 miliar dari bulan sebelumnya.

Posisi cadangan devisa tersebut merupakan yang terendah sejak November 2020 lalu.

Semakin besar cadangan devisa, artinya BI punya lebih banyak "peluru" untuk menstabilkan rupiah. Ketika cadangan devisa turun, maka "peluru" semakin berkurang sehingga memberikan sentimen negatif ke rupiah.

"Penurunan posisi cadangan devisa pada April 2022 antara lain dipengaruhi oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan antisipasi kebutuhan likuiditas valas sejalan dengan meningkatnya aktivitas perekonomian," tulis BI dalam keterangan resmi Jumat (13/5/2022) pekan lalu.

"Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,9 bulan impor atau 6,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," tambah keterangan tersebut.

Di bulan ini, cadangan devisa tersebut berisiko semakin menurun jika melihat nilai tukar rupiah yang terus tertekan dan capital outflow yang terjadi di pasar obligasi. BI tentunya lebih banyak melakukan intervensi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dolar AS Ngamuk, Rupiah Loyo-loyonya


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading