Fed Mau Mengumumkan Suku Bunga, Bursa Asia Galau

Market - Maesaroh & Maesaroh, CNBC Indonesia
04 May 2022 10:26
bursa hong kong

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia mengalami pergerakan yang beragam pada perdagangan Rabu (4/5/2022). Beberapa bursa dalam tekanan karena investor menunggu hasil Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), kekhawatiran memburuknya kondisi perekonomian China serta krisis Rusia-Ukraina.
Namun, di sisi lain, sejumlah bursa juga bergerak dalam zona hijau karena faktor positif seperti kebijakan Selandia Baru yang membuka perbatasan bagi 60 negara serta melonjaknya Purchasing Managers' Index (PMI) Australia.

Pada pukul 09:01 WIB, indeks Hang Seng Hong Kong HSI turun 0,48% ke level 21.001,37. Pada pembukaan hari ini indeks Hang Seng juga langsung jeblok 0,36% ke level 21.025,70.

Straits Times Singapura melemah 0,18% ke 3.350,69 padahal pada pembukaan perdagangan hari ini, Straits Times sempat dibuka menguat.
Namun, ASX 200 Australia terapresiasi 0,14% ke 7.326,10, dan KOSPI Korea Selatan menguat 0,11% ke 2.683,37.
Pada pembukaan perdagangan, ASX 200 Australia juga dibuka dalam zona hijau dan bursa menguat 0,6% ke level 2.696,45.


Saat mayoritas bursa saham Asia-Pasifik rontok, indeks saham di China justru libur Hari Buruh hingga Kamis (5/5/2022), sementara indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) libur Hari Raya Idul Fitri di pekan ini. Bursa Malaysia juga masih libur Hari Raya Idul Fitri.

Sebagai catatan, The Fed menggelar FOMC pada Selasa (3/5) dan diharapkan mengumumkan kebijakan mereka pada Rabu (4/5) waktu Amerika Serikat (AS) atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Berdasarkan piranti CME Fedwatch, pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin di bulan Mei dengan probabilitas 99,8% atau hampir 100%.

Sementara itu, perekonomian China dikhawatirkan melemah karena kebijakan "zero Covid-19" telah membuat negara tersebut menerapkan lockdown di 45 kota. Akibat lockdown, PMI China melorot di bulan April menjadi 47,4 dari bulan sebelumnya 49,5.

Dengan demikian, sektor manufaktur China sudah mengalami kontraksi dua bulan beruntun. PMI menggunakan angka 50 sebagai ambang batas. Di bawah 50 artinya kontraksi, sementara di atasnya ekspansi.

Sementara itu, dari perkembangan perang Rusia-Ukraina, Rusia kembali menyerang Ukraina dengan roket. Roket ditembakkan ke pabrik baja yang ada di kota pelabuhan Mariupol.

Dikutip dari Reuters, Selasa (3/5/2022), serangan tersebut menyebabkan asap tebal yang menghitam di langit dan diperkirakan lebih dari 200 orang warga sipil yang masih terjebak di sana.
Serangan ini pun kembali dikecam sehingga Komisi Eropa diminta untuk memberikan sanksi minyak kepada Rusia. Diantaranya melarang pembelian minyak ke negara tersebut.

"Realistis jika melihat pelambatan ekonomi China yang tajam akan terjadi di kuartal II-2022, dan jika melihat sejarah maka perekonomian global juga akan menyusul," kata Rodrigo Cartril, analis National Australia Bank (NAB) dalam, sebuah catatan yang dikutip CNBC International.

Di kawasan Asia Pasifik, bank sentral Australia (RBA) memberikan kejutan ke pasar finansial pada Selasa (3/5/2022). Untuk pertama kalinya dalam lebih dari 10 tahun terakhir RBA menaikkan suku bunganya.
Meski para ekonom sudah memprediksi kenaikan tersebut, tetapi RBA di bawah pimpinan Gubernur Philip Lowe bertindak lebih agresif.
RBA menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 0,35% dari rekor terendah sepanjang masa 0,1%. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama sejak November 2010.

Pengetatan kebijakan moneter Australia dikhawatirkan bisa menekan permintaan dan pertumbuhan negara tersebut yang tengah dalam pemulihan. Pemulihan tersebut tercermin dari PMI Australia yang melonjak ke 58,5 di bulan April, rekor tertinggi sejak Juli 2021.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Mengulas Kinerja & Pencapaian Bursa Sepanjang 2021


(mae/mae)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading