Amsyong! Kemarin Baru Pulih, Bitcoin cs Ambruk Lagi Hari Ini

Market - chd, CNBC Indonesia
27 April 2022 09:55
Ilustrasi Cryptocurrency (Photo by Pierre Borthiry on Unsplash)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga kripto utama kembali berjatuhan pada perdagangan Rabu (27/4/2022) pagi waktu Indonesia, seiring meningkatnya kekhawatiran investor akan potensi melambatnya ekonomi global akibat inflasi yang meninggi disertai dengan pengetatan kebijakan moneter bank sentral.

Melansir data dari CoinMarketCap pada pukul 09:00 WIB, Bitcoin ambruk 5,36% ke level harga US$ 38.303,04/koin atau setara dengan Rp 551.563.776/koin (asumsi kurs Rp 14.400/US$), Ethereum ambrol 5,65% ke level US$ 2.835,23/koin atau Rp 40.827.312/koin.

Sedangkan untuk koin digital (token) alternatif (altcoin) lainnya seperti Solana ambles 4,52% ke US$ 96,29/koin (Rp 1.386.576/koin), XRP longsor 7,29% ke US$ 0,6497/koin (Rp 9.356/koin), Terra anjlok 7,11% ke US$ 89,1/koin (Rp 1.283.040/koin), dan Cardano tergelincir 6,05% ke US$ 0,8335/koin (Rp 12.002/koin).


Berikut pergerakan 10 kripto utama pada hari ini.

Kripto

Token Avalanche yang sebelumnya terdepak dari jajaran 10 besar kripto oleh Dogecoin, kini kembali menduduki posisi ke-10 dalam jajaran tersebut.

Pergerakan Bitcoin dan kripto lainnya pada hari ini cenderung sejalan dengan pergerakan bursa saham global, di mana bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street kembali karam pada Selasa kemarin. Karamnya Wall Street juga membuat bursa Asia-Pasifik kembali terkoreksi pada hari ini.

Sentimen pasar global kembali memburuk karena investor khawatir dengan beberapa kabar kurang baik dari global. Salah satunya yakni potensi melambatnya kembali ekonomi Negeri Paman Sam.

Aksi jual juga terus melanda Wall Street akibat kecemasan akan risiko pelambatan ekonomi AS akibat inflasi yang sangat tinggi dan langkah bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) menaikkan suku bunga agresif untuk meredamnya.

Kepala Penelitian Fundstrat Global Advisor, Tom Lee telah memprediksikan bahwa kuartal I-2022 akan 'berbahaya', tapi ternyata pasar lebih buruk dari yang dia prediksikan, di mana inflasi yang memburuk sejalan dengan ekspektasi pasar. Meski demikian, dia tetap optimis.

"Ketika pasar obligasi berteriak agar bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) sedikit lebih ketat, sulit bagi pasar saham untuk bertahan dan saya pikir itulah yang sedang kita alami sekarang, tapi saya tidak berpikir untuk menjual ekuitas. Saya tidak berpikir bahwa inflasi akan terus menjadi masalah bahkan di kuartal II-2022" tambahnya.

Jika analis benar dan ekonomi AS akan memasuki resesi lain pada awal tahun depan, pasar cryptocurrency dapat melihat hasil yang sangat berbeda kali ini.

Karena adanya korelasi kuat antara Bitcoin dengan bursa saham AS, terutama indeks S&P 500 dan Nasdaq baru-baru ini, kinerja cryptocurrency terbesar kemungkinan akan bergantung pada apa yang dilakukan pasar yang lebih luas.

"Bitcoin benar-benar terikat dengan Nasdaq, dan jika The Fed terus menaikkan suku bunga, Nasdaq akan menderita dalam jangka pendek, dan jika korelasi ini berlanjut, maka pasar kripto juga bernasib sama," kata Bob Iaccino, kepala strategi di Path Trading Partners dan manajer portofolio bersama di Stock Think Tank, dikutip dari CoinDesk.

Korelasi 90 hari antara Bitcoin dan indeks Nasdaq 100 yang sarat teknologi tetap meningkat sejak 2020, bahkan baru-baru ini mencapai level tertinggi barunya.

Korelasi Bitcoin-Nasdaq 100Sumber: CoinDesk & Koyfin

"Selama ada potensi resisi, saya pikir kita akan melihat pergerakan harga positif di Bitcoin tetapi pasar kripto lainnya akan menghadapi hambatan karena investor terus memindahkan risiko dan investor merasa lebih sulit untuk mengumpulkan dana di pasar pinjaman yang lebih ketat," kata Howard Greenberg, seorang pendidik cryptocurrency di Prosper Trading Academy, dilansir dari CoinDesk.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dibayangi Sikap Hawkish The Fed, Aset Kripto Lesu


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading