Pamor Batu Bara Melonjak Akibat Rusia, Ini Kata Produsen

Market - Rahajeng KH, CNBC Indonesia
26 April 2022 15:18
China Sampai Malaysia Masih 'Kecanduan' Batu Bara RI, Ini Buktinya!

Jakarta, CNBC Indonesia - Batu bara masih menjadi sumber energi yang diandalkan di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi dan kebutuhan listrik dunia. Beberapa negara yang pernah 'meninggalkan' batu bara seperti Jerman dan Italia, mempertimbangkan untuk mengaktifkan kembali.

Sementara di Afrika Selatan, kini banyak kapal bermuatan batu bara yang lalu lalang di Tanjung Harapan menuju Eropa. Sebelumnya, jalur ini cukup sepi untuk pengangkutan batu bara.

Di Amerika Serikat penggunaan batu bara kini tengah bangkit, dan China membuka kembali tambang yang telah ditutup serta merencanakan yang baru.


Hal ini menandakan dunia masih belum bisa terlepas dari batu bara, terutama di tengah meningkatnya aktivitas industri. Ditambah lagi dengan perang Rusia dan Ukraina yang membawa efek domino, sehingga membuat produsen listrik berlomba mengamankan pasokan batu bara.

Akibatnya, dalam sepekan terakhir harga batu bara menguat 0,6% point to point. Dalam sebulan, emas hitam juga menguat 27,9% dan dalam setahun melesat 294,4%.

Hal ini pun membawa potensi tersendiri bagi Indonesia yang kaya akan emas hitam ini. Produsen batu bara terbesar, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), menilai tingginya permintaan batu bara dunia membawa potensi besar, namun kebutuhan dalam negeri tetap harus diutamakan.

"Tantangan di Indonesia untuk meningkatkan output dan memenuhi permintaan batu bara luar negeri yang meningkat adalah fenomena La Nina yang berkelanjutan . Hujan lebat sejak akhir tahun lalu diperkirakan masih berlangsung hingga Mei," kata Direktur dan Sekretaris Bumi Resources Dileep Srivastava kepada CNBC Indonesia, Selasa (26/4/2022).

Dia menegaskan prioritas tertinggi diberikan untuk memenuhi DMO dan pasokan ke PLN untuk menjaga pasokan listrik dengan harga terkendali yang ditetapkan.

Untuk tahun ini BUMI menargetkan produksi batu bara mencapai kisaran 83-89 juta ton, dengan proyeksi harga rata-rata di atas 2021.

"Kami telah menangguhkan beberapa ekspor dan akan menebusnya setelah cuaca membaik dan setelah itu mempertimbangkan untuk memenuhi permintaan tambahan dari pasar baru," tambah Dileep.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

BUMI Kembali Raih A+ Laporan Keberlanjutan Terbaik


(rah/rah)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading