Jerome Powell Buka Suara, Aset Kripto Ambruk Berjamaah

Market - Tim Riset, CNBC Indonesia
23 April 2022 16:20
Ilustrasi Jerome Powell (CNBC Indonesia/ Edward Ricardo) Foto: ilustrasi Jerome Powell (Edward Ricardo/ CNBC Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga kripto utama cenderung terkoreksi pada perdagangan Sabtu (23/4/2022) sore waktu Indonesia, karena investor merespons negatif dari pernyataan ketua bank sentral Amerika Serikat (AS) terkait kebijakan moneter selanjutnya.

Melansir data dari CoinMarketCap, Bitcoin (BTC) kembali turun ke bawah level US$ 40.000. Pada pukul 14:30 WIB koin dengan kapitalisasi pasar terbesar tersebut merosot 2,70% ke level harga US$ 39.545,54/koin atau setara dengan Rp 567,48 juta/koin (asumsi kurs Rp 14.350/US$).

Kondisi perdagangan tersebut menunjukkan ketidakpastian di antara para pedagang, terutama karena risiko makroekonomi dan geopolitik masih ada.


Lebih lanjut, meningkatnya korelasi antara BTC dan pasar saham - yang juga terkoreksi - berarti investor lebih sensitif terhadap dampak kenaikan suku bunga pada nilai aset kripto, mirip dengan apa yang terjadi pada tahun 2014 dan 2018.

Hal tersebut dapat membuat beberapa investor dan pedagang wait and see, yang mengarah pada pengembalian pasar yang lebih rendah. terutama dibandingkan dengan dua tahun terakhir ketika stimulus moneter dan fiskal jumbo yang belum pernah terjadi sebelumnya mendorong aset kripto yang mampu meroket to the moon.

Berikut pergerakan beberapa koin kripto utama lainnya pada hari ini:

Ethereum -2,19% ke level US$ 2.946,48/koin atau Rp 42,48 juta/koin

BNB -2,22% ke level US$ 401,99/koin atau Rp 5,76 juta/koin

XRP -2,90% ke level US$ 0,7126/koin atau Rp 10.225/koin

Solana -3,33% ke level US$ 99,77/koin atau Rp 1,43 juta/koin

Terra -0,46% ke level US$ 93,21/koin atau Rp 1,33 juta/koin.

Pasar kripto yang sebelumnya sempat pulih, pada hari ini kembali berbalik arah ke zona koreksi, mengikuti pasar saham global setelah adanya pernyataan ketua bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) terkait kebijakan moneter kedepannya.

Investor di pasar aset berisiko, baik di pasar saham maupun pasar kripto cenderung merespons negatif dari pernyataan ketua The Fed, Jerome Powell yang mengisyaratkan bahwa kenaikan suku bunga yang lebih besar mungkin akan dilakukan pada rapat kebijakan moneter berikutnya, dalam hal ini edisi Mei.

"Ini saatnya untuk bergerak sedikit lebih cepat dalam menaikkan suku bunga. Saya juga berpikir ada sesuatu yang bisa dikatakan untuk front-end loading setiap akomodasi yang dianggap tepat. ... Saya akan mengatakan 50 basis poin akan dibahas untuk pertemuan Mei," kata Powell dalam Forum Dana Moneter International (International Monetary Fund/IMF).

Sebelum Powell memberikan komentarnya, Presiden The Fed San Francisco Mary Daly, Charles Evans dari Chicago, dan Raphael Bostic dari Atlanta telah mengatakan bahwa mereka melihat perlunya menaikkan suku bunga acuan untuk menjinakkan inflasi, tapi tidak ingin menghentikan ekspansi.

Daly mengakui bahwa kebijakan yang lebih ketat dapat memicu resesi ringan. Adapun Presiden The Fed St Louis James Bullard di awal pekan bilang bahwa dia terbuka dengan opsi kenaikan 0,75% pada pertemuan Mei untuk membantu meredam inflasi yang kini tertinggi sejak 40 tahun.

Selanjutnya, investor juga merespons negatif dari melonjaknya kembali yield surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun ke level 2,9%.

Selain dua data ekonomi tersebut, Binance yang merupakan perusahaan pertukaran kripto terbesar di dunia ini tengah dilanda malaslah.

Binance mengumumkan telah menonaktifkan akun klien utamanya di Rusia, sebagai dampak dari sanksi ekonomi yang diberikan oleh Uni Eropa kepada Rusia.

Binance menginformasikan kepada penggunanya di Rusia, di mana pengguna baik individu maupun perusahaan yang memiliki kripto senilai lebih dari 10.000 euro (US$ 10.900) akan dilarang melakukan setoran atau perdagangan baru.

Namun, klien yang terkena dampak tersebut masih dapat dapat menarik dananya.

Binance, bersama dengan Coinbase Global Inc dan Kraken, telah menolak panggilan dari Kyiv untuk larangan total terhadap pengguna Rusia setelah Presiden Rusia, Vladimir Putin melakukan agresi militernya di Ukraina.

Terbaru, Binance juga dengan keras membantah tuduhan bahwa mereka telah membantu pihak berwenang Rusia melacak sumbangan jutaan dolar kepada oposisi Alexei Navalny yang saat ini sedang dipenjara. Laporan tersebut merupakan hasil investogasu yang diterbitkan oleh Reuters pada hari Jumat (22/4) kemarin.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Harta Lord Kripto Rp 1.370 T, Masuk yang Terkaya di Bumi


(fsd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading