Yield Mayoritas SBN Menguat, Investor Buru SBN Tenor Pendek

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
20 April 2022 18:32
Ilustrasi Obligasi (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBCIndonesia - Harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) kembali ditutup melemah pada perdagangan Rabu (20/4/2022), meski ada pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari beberapa lembaga besar global.

Investor ramai memburu SBN berjangka pendek yakni tenor 1 tahun dan 3 tahun, ditandai dengan turunnya imbal hasil (yield) dan penguatan harga. Sedangkan SBN berjangka menengah hingga panjang cenderung dilepas oleh investor.

Melansir data dari Refinitiv, yield SBN tenor 1 tahun melemah 5,8 basis poin (bp) ke level 2,937%, sedangkan yield SBN berjatuh tempo 3 tahun turun 1,7 bp ke level 3,744%.


Sementara untuk yield SBN bertenor 10 tahun yang merupakan SBN acuan negara kembali naik meski kenaikannya cenderung tipis. Yield SBN tenor 10 tahun naik 0,1 bp ke level 6,978%.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga naiknya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang melemah, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Pasar saham global, utamanya di Asia pada hari ini secara mayoritas terpantau cerah, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Bahkan, bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street juga mulai pulih dari zona koreksinya Selasa kemarin.

Sementara itu dari pasar obligasi pemerintah AS (US Treasury), yield tenor 10 tahun cenderung melemah pada hari ini, setelah sempat menyentuh kisaran level 2,9% pada Selasa kemarin.

Dilansir dari CNBC International, yield Treasury tenor 10 tahun cenderung turun 5,4 bp ke level 2,861% pada pukul 06:50 waktu AS, dari sebelumnya pada penutupan Selasa kemarin di level 2,915%.

Hal ini terjadi setelah Dana Moneter International (International Monetary Fund/IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan globalnya untuk tahun 2022 dan 2023, di mana dampak dari perang Rusia-Ukraina akan menyebar jauh dan luas.

Pada 2022, IMF meramal ekonomi dunia diperkirakan hanya mampu tumbuh 3,6% lebih rendah dari yang sebelumnya diramal 3,8%. Untuk 2023, akan menjadi lebih buruk karena ekonomi diperkirakan hanya tumbuh 0,8%-0,2%.

Buruknya ramalan tersebut disebabkan oleh perang Rusia dan Ukraina yang hingga kini belum ada tanda-tanda penyelesaian.

Padahal, kedua negara tersebut berperan besar pada perekonomian dunia, terutama dalam pasokan minyak dan gas bumi. Ini sekaligus memberikan pengaruh terhadap sederet harga komoditas internasional yang kini sudah melonjak. Perang juga berdampak pada kenaikan harga pangan internasional.

Situasi ini akhirnya turut mengerek inflasi di berbagai negara. IMF memperkirakan inflasi pada negara maju mencapai 5,7% dan 8,7% pada negara berkembang untuk 2022.

Negara maju dan berkembang dengan fiskal yang kuat, akan mampu memberikan subsidi atau bantalan untuk menjaga daya beli masyarakat. Akan tetapi, negara lain dengan fiskal terbatas tak mampu berbuat banyak.

Sebelumnya pada Senin lalu, World Bank juga telah menurunkan perkiraan pertumbuhan globalnya untuk tahun ini hampir satu poin persentase penuh dari 4,1% menjadi 3,2%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tahun Baru Tinggal Sehari Lagi, Harga SBN Melemah


(chd/chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading