Cobaan Buat yang Punya Kripto, Bitcoin cs Ambruk Lagi Nih

Market - chd, CNBC Indonesia
12 April 2022 10:20
Ilustrasi Cryptocurrency (Photo by Pierre Borthiry on Unsplash) Foto: Ilustrasi Cryptocurrency (Photo by Pierre Borthiry on Unsplash)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mayoritas kripto utama kembali melemah pada perdagangan Selasa (12/4/2022), karena investor mengurangi selera risiko mereka di tengah kekhawatiran dari meningginya kembali inflasi Amerika Serikat (AS) dan pengetatan kebijakan moneter bank sentral AS.

Melansir data dari CoinMarketCap pada pukul 09:00 WIB, hanya koin digital (token) berjenis stablecoin yakni Tether dan USD Coin yang mampu bertahan di zona hijau pada hari ini.

Sedangkan sisanya terpantau kembali berjatuhan. Bitcoin ambles 6,34% ke level harga US$ 39.553,24/koin atau setara dengan Rp 567.984.526/koin (asumsi kurs Rp 14.360/US$), Ethereum ambruk 7,07% ke level US$ 2.983,17/koin atau Rp 42.838.321/koin.


Sementara untuk token alternatif (altcoin) lainnya seperti XRP ambrol 6,63% ke US$ 0,7012/koin (Rp 10.069/koin), Solana anjlok 9,82% ke US$ 100,64/koin (Rp 1.445.190/koin), Cardano longsor 9,25% ke US$ 0,9343/koin (Rp 13.417/koin), Terra tergelincir 8,93% ke US$ 82,86/koin (Rp 1.189.870/koin), dan Avalanche terjatuh 6,6% ke US$ 75,85/koin (Rp 1.089.206/koin).

Berikut pergerakan 10 kripto utama pada hari ini.

Kripto

Bitcoin dan kripto lainnya melanjutkan koreksinya pada hari ini karena investor cenderung mengurangi eksposur mereka terhadap aset spekulatif, seperti saham dan kripto, di tengah kekhawatiran tentang inflasi AS yang masih akan meninggi dan pertumbuhan ekonomi yang berpotensi melambat kembali.

Inflasi AS yang masih akan meninggi membuat ekspektasi akan tren suku bunga tinggi semakin membesar dan pada akhirnya membuat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) semakin menanjak.

Pada pukul 01:55 WIB, yield Treasury tenor 10 tahun berada di 2,7801%. Level ini merupakan rekor tertinggi sejak awal 2019.

Kenaikan yield membuat pasar surat utang pemerintah Negeri Paman Sam menjadi sangat 'seksi'. Akibatnya, arus dana yang mengalir ke pasar aset berisiko seperti saham dan kripto makin seret.

Pasar semakin yakin bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) bakal agresif dalam menaikkan suku bunga acuan untuk mengekang inflasi.

Jika suku bunga semakin tinggi, maka hal ini dapat memukul beban bunga pendanaan saham teknologi dan pada akhirnya mendorong turunnya harga saham teknologi.

Pada Selasa pagi waktu AS atau Rabu malam waktu Indonesia, Departemen Ketenagakerjaan AS akan merilis data inflasi periode Maret 2022.

Konsensus pasar yang dihimpun Reuters memperkirakan inflasi AS bulan lalu mencapai 8,5% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2021 (year-on-year/yoy). Kalau terwujud, maka akan menjadi yang tertinggi sejak 1981.

The Fed sepertinya akan 'lebih keras' soal kenaikan bunga acuan. Konsensus pasar yang dihimpun Reuters memperkirakan Ketua The Fed Jerome Powell dan rekan-rekannya bakal mendongkrak Federal Funds Rate sebanyak 2,5 poin persentase pada tahun ini. Jika terwujud, maka akan menjadi yang pertama sejak 1994.

"Dengan pernyataan dari para pejabat The Fed serta tekanan inflasi yang semakin nyata, kami memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan masing-masing 50 basis poin pada Mei, Juni, dan Juli," sebut James Knightly, Chief International Economist ING, seperti dikutip dari Reuters.

Di lain sisi, beberapa kripto altcoin berkinerja lebih buruk dari Bitcoin pada pagi hari ini, menandakan selera risiko investor kripto kembali menurun. Padahal pada akhir bulan lalu, altcoin sempat mengungguli Bitcoin yang menandakan bahwa selera risiko sempat pulih.

Namun, untuk kripto berjenis stablecoin secara mayoritas masih bertahan di zona hijau tipis di tengah koreksinya Bitcoin dan kripto altcoin.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Crypto Crash! Bitcoin Cs Babak Belur, Ada Apa Ini?


(chd/vap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading