The Fed Makin Galak, Bitcoin dkk Ambruk Lagi

Market - chd, CNBC Indonesia
07 April 2022 10:10
Gambar Cover, Cryptocurrency Ambrol

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga Bitcoin dan kripto utama lainnya terpantau berjatuhan pada perdagangan Kamis (7/4/2022), di tengah potensi semakin agresifnya bank sentral Amerika Serikat (AS) untuk melawan inflasi tinggi.

Melansir data dari CoinMarketCap pada pukul 09:00 WIB, Bitcoin ambles 4,04% ke level harga US$ 43.367,13/koin atau setara dengan Rp 622.318.316/koin (asumsi kurs Rp 14.350/US$), Ethereum ambrol 4,49% ke level US$ 3.192,22/koin atau Rp 45.808.357/koin.

Sedangkan Terra ambruk 6,88% ke US$ 108,74/koin (Rp 1.560.419/koin), Solana anjlok 8,44% ke US$ 114,43/koin (Rp 1.642.071/koin), XRP terkoreksi 4,73% ke US$ 0,7702/koin (Rp 11.052/koin), Cardano longsor 7,75% ke US$ 1,06/koin (Rp 15.211/koin), dan Avalanche tergelincir 7,07% ke US$ 83,78/koin (Rp 1.202.243/koin).


Berikut pergerakan 10 kripto utama pada hari ini.

Kripto

Pasar kripto melanjutkan koreksinya pada hari ini, menyusul kembali koreksinya pasar saham global setelah rilis risalah rapat bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Investor menyambut negatif risalah rapat The Fed pada rapat bulan lalu yang mengindikasikan bahwa para pejabat bank sentral "secara umum sepakat" mengurangi neraca keuangannya sebesar US$ 95 miliar per bulan.

Selain itu, mereka juga mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan (Fed Funds Rate) yang lebih agresif dari sekadar 25 basis poin (bp). Bursa saham AS anjlok ketika notula rapat tersebut dirilis, meski kemudian di penghujung perdagangan laju koreksi kian berkurang.

"Banyak peserta rapat mencatat bahwa-dengan inflasi di atas target Komite [Pasar Terbuka Federal/FOMC], risiko inflatoir masih meninggi, dan Fed Funds Rate di bawah estimasi peserta pasar dalam jangka panjang-mereka condong pada kenaikan sebesar 50 basis poin di rentang waktu yang ditargetkan," demikian tertulis dalam risalah rapat tersebut.

Sebelumnya, Presiden The Fed Philadelphia, Patrick Harker mengatakan "sangat cemas" melihat inflasi. Komentar itu menimpali pernyataan Gubernur The Fed, Lael Brainard yang memberi sinyal dukungan kenaikan suku bunga acuan dan mengurangi neraca secepatnya pada Mei.

Sementara itu, Presiden The Fed San Francisco, Mary Daly menilai inflasi tinggi sama buruknya dengan pengangguran bagi masyarakat AS karena memicu beban ekonomi dan menekan tingkat kesejahteraan.

Terungkapnya sikap agresif The Fed membuat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun yang menjadi acuan pasar melesat ke 2,65%, yang merupakan level tertinggi dalam 3 tahun terakhir.

The Fed yang semakin agresif dan potensi kenaikan suku bunga acuannya menjadi sentimen negatif bagi pasar kripto. Hal ini karena kenaikan suku bunga akan mengurangi likuiditas di pasar keuangan dan membuat arus modal masuk ke aset kripto semakin berkurang, karena investor mengurangi selera risikonya di aset tersebut.

Di lain sisi, penerapan sanksi baru terhadap Rusia dari Negara Barat juga turut mempengaruhi sikap investor dan mereka kini lebih berhati-hati memburu aset berisiko.

Sanksi tersebut dimaksudkan untuk melumpuhkan ekonomi Rusia, yang telah mampu melakukan pembayaran utang dari pendapatan yang diterimanya dari penjualan energi dan melalui akses terbatas ke perbankan asing.

AS telah mendesak negara-negara Uni Eropa untuk melarang impor minyak dan gas Rusia, di mana Uni Eropa sangat bergantung pada dua komoditas energi Rusia.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Crypto Crash! Bitcoin Cs Babak Belur, Ada Apa Ini?


(chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading