Katanya Inflasi Lagi Tinggi, Kok Emas Malah 'Basi'?

Market - Putra, CNBC Indonesia
02 April 2022 13:59
Pegawai merapikan emas batangan di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta, Kamis (22/4/2021). Harga emas batangan yang dijual Pegadaian mengalami penurunan nyaris di semua jenis dan ukuran /satuan.  (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejarah mencatat, saat harga barang dan jasa membumbung tinggi (inflasi), salah satu instrumen investasi yang menarik adalah logam mulia atau emas.

Sebelum mata uang fiat ada, pelaku ekonomi banyak menggunakan emas sebagai alat tukar. Jumlahnya yang terbatas dan tak bisa sembarang ditambang atau dicetak seperti uang fiat membuatnya cocok digunakan sebagai instrumen lindung nilai (hedging) saat kondisi ekonomi diterpa inflasi tinggi.

Dengan adanya kenaikan harga komoditas terutama energi dan pangan dunia, inflasi di berbagai negara mengalami kenaikan.


Di AS inflasi bahkan sampai tembus ke level tertinggi dalam 4 dekade. Kemudian di Inggris dan Eropa inflasi melonjak ke level tertingginya dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Di dalam negeri, kemarin Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi RI di bulan Maret tercatat mencapai level tertingginya sejak Mei 2020.

Namun sayang pekan ini harga emas justru malah melempem. Harga emas melorot hampir 2% dan berada di US$ 1.920/troy ons.

Penurunan harga emas salah satunya dipicu oleh anjloknya harga minyak mentah dunia setelah Presiden Amerika Serikat (AS) JoeBiden merencanakan untuk mengeluarkan cadangan minyak dari persediaan nasional sebesar 1 juta barel/hari selama 6 bulan atau sekitar 180 juta barel.

Sebagai informasi, pengeluaran cadangan minyak sebesar itu adalah yang tertinggi sejak 1974 dan pengeluaran cadangan minyak strategis ini hanya dilakukan ketika rantai pasok global sedang terganggu seperti sekarang ini dengan adanya konflik Rusia-Ukraina.

Di sisi lain pihak Rusia juga mengatakan bakal mengurangi aktivitas militernya di sekitar Ibu Kota Ukraina Kyiv secara signifikan yang semakin menekan harga minyak mentah.

Meskipun masih berada di kisaran dekat US$ 100/barel, namun harga minyak sudah ambles hampir 14% dalam sepekan terakhir.

Ketika harga minyak longsor, maka ekspektasi inflasi tinggi yang berkelanjutan juga surut, apalagi dibarengi dengan rencana bank sentral AS The Fed yang agresif dalam mengetatkan kebijakan moneternya.

Pengetatan moneter yang agresif akan berdampak pada pergerakan dolar AS juga. Dolar AS dan emas bergerak berlawanan arah alias berkorelasi negatif sehingga membuat harga emas menjadi tertekan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Diam-diam Menghanyutkan, Harga Emas Naik 3 Hari Beruntun!


(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading