Pekan ini Batu Bara Melesat 10%, Diprediksi Bisa Naik Lagi!

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
27 March 2022 15:30
A pile of coal is seen at a warehouse of the Trypillian thermal power plant, owned by Ukrainian state-run energy company Centrenergo, in Kiev region, Ukraine November 23, 2017. Picture taken November 23, 2017. REUTERS/Valentyn Ogirenko

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kembali menggeliat pekan ini, setelah ambles dalam pekan lalu. Melansir data Refinitiv, harga batu bara acuan Ice Newcastle (Australia) untuk kontrak April pada perdagangan Jumat (23/3/2022) ditutup di level US$ 264,20/ton.

Meski turun 4,27% secara harian pada Jumat, dalam sepekan harga batu bara tercatat melesat lebih dari 10%, dan sejak awal tahun harganya masih di atas awan, 74% lebih tinggi dari harga penutupan hari terakhir tahun lalu.

Kenaikan ini juga mengakhiri tren penurunan harga batu bara yang sudah berlangsung dua pekan beruntun, bahkan sepanjang tanggal 10-21 Maret, harga batu bara terpangkas 40%.


Kenaikan harga batu bara mengikuti minyak mentah dunia yang juga melonjak. Kontrak Brent harganya naik 11,78% dibanding posisi penutupan pekan lalu ke level US$ 120,65/barel. Sedangkan untuk minyak kontrak West Texas Intermediate (WTI) naik 8,79% ke US$ 113,90/barel pekan ini.

Rebound komoditas energi ini disebabkan oleh beberapa faktor utama, termasuk makin meningkatnya eskalasi Rusia-Ukraina hingga kenaikan kasus Covid-19 di China.

Konflik Rusia-Ukraina belum mereda setelah berlangsung hampir sebulan.Terbaru, pesawat-pesawat Moskow bahkan dikabarkan menggempur kota Chernihiv, dan menghancurkan jembatan di sana, Rabu (23/3/2022) pagi waktu setempat.

Harga batu bara juga melonjak karena kenaikan kasus Covid-19 di China. China telah memberlakukan lockdown di beberapa kota menyusul adanya lonjakan kasus Covid akibat varian Omicron. Salah satu kota yang di-lockdown adalah Tangshan yang memiliki salah satu pelabuhan terbesar untuk pengiriman batu bara.

Lockdown membuat pengiriman terhambat karena lalu lintas truk ke pelabuhan terganggu.

China mencatat 4.770 kasus baru pada Senin (21/3). Negara tersebut juga sempat mencatatkan penambahan kasus hingga lebih dari 5.000 orang pada pekan lalu. Jumlah tersebut menjadi rekor tertinggi dalam 2 tahun terakhir.

Pemerintah China juga akan melakukan perbaikan pada jalur kereta yang berfungsi mengangkut batu bara pada 8 April mendatang. Perbaikan dilakukan dari Provinsi Shanxi ke wilayah timur negara tersebut. Aktivitas perbaikan ini untuk sementara diperkirakan sedikit menghambat lalu lintas pengangkutan batu bara.

Perbaikan dilakukan menjelang musim panas di mana permintaan batu bara biasanya meningkat karena naiknya pemakaian listrik untuk pendingin. Perbaikan dan ekspektasi kenaikan permintaan ke depan membuat pembeli berusaha memenuhi kebutuhan batu bara mereka sehingga harga batu bara pun terdongkrak.

Beberapa negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan kawasan Eropa sudah meningkatkan pemesanan karena terganggunya pasokan dari Rusia. Pemesanan juga diperkirakan akan naik dari India.

Kementerian Batu Bara India, Rabu (23/3/2022), mengatakan permintaan batu bara di India diperkirakan akan meningkat 63% menjadi 1,5 miliar ton pada 2030.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Perang Dunia III Meletus, Pasokan Batu Bara Dunia Bisa Kiamat


(fsd/fsd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading