Rekor Harga Minyak Beri Efek Negatif Ke Pasar Asia, RI Aman?

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
14 March 2022 09:50
FILE - In this Aug. 26, 2021 file photo, a flare burns natural gas at an oil well Aug. 26, 2021, in Watford City, N.D. The world's facing an energy crunch. Europe is feeling it worst as natural gas prices skyrocket to five times normal, forcing some factories to hold back production. Reserves depleted last winter haven't been made up, and chief supplier Russia has held back on supplying extra. Meanwhile, the new Nord Stream 2 gas pipeline won't start operating in time to help if the weather is cold, and there's talk Europe could wind up rationing electricity. China is feeling it too, seeing power outages in some towns. (AP Photo/Matthew Brown, file)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan bersejarah akan harga minyak dunia ikut mempengaruhi prospek pasar ekuitas dan mata uang Asia, karena momok harga tinggi yang berkepanjangan memperlihatkan kerentanan bagi negara-negara yang bergantung pada energi.

Risiko kenaikan harga konsumen dan gangguan pada neraca transaksi berjalan telah memicu arus keluar asing yang kuat dari pasar ekuitas di negara-negara seperti India dan Korea Selatan dalam beberapa hari terakhir, hal tersebut ikut mendorong pelemahan mata uang mereka.

Beberapa negara kaya sumber daya, seperti Australia dan Indonesia, termasuk di antara yang diuntungkan karena dapat bertahan di tengah penurunan kinerja pasar ekuitas sejak Rusia menginvasi Ukraina. Sanksi terhadap Rusia telah mendorong harga minyak mentah Brent ke level US$ 139 per barel awal pekan lalu.


Berikut adalah bagaimana kondisi beberapa pasar Asia dalam menghadapi kenaikan harga energi:

Australia

Australia merupakan salah satu produsen dan eksportir utama logam dan mineral di dunia, termasuk batu bara, bijih besi dan emas. Minyak dan gas alam sendiri menyumbang lebih dari 15% pendapatan ekspor Australia, menurut data RBC Europe Ltd.

Indeks acuan ASX 200 - yang mana perusahaan material menyumbang seperempat dari bobot, telah turun 2% sejak 23 Februari, sehari sebelum invasi Rusia ke Ukraina. Kontraksi tersebut jauh lebih baik dibandingkan dengan penurunan lebih dari 7% terhadap MSCI Asia Pacific Index. Perusahaan tambang seperti Cimic Group Ltd. dan Whitehaven Coal Ltd sahamnya telah melonjak setidaknya 27% selama periode tersebut, sementara dolar Australia naik lebih dari 1% terhadap greenback pada akhir Jumat di Asia.

Indonesia dan Malaysia

Indonesia dan Malaysia adalah eksportir minyak sawit terbesar di dunia, status ini telah membantu bursa domestik menarik investor di tengah penurunan harga saham global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu bertahan dari koreksi akibat dampak perang, sementara rupiah adalah satu-satunya pemenang di antara mata uang Asia sejak invasi Ukraina.

Senada dengan Indonesia, performa tangguh dari ringgit telah mendukung arus masuk dana asing ke pasar saham Malaysia. Meski turun sedikit lebih dari 1% sejak 23 Februari, indeks saham Malaysia bernasib lebih baik daripada pasar regional.

Mayoritas Bursa Asia Melempem
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading