Waspada! Inflasi AS Meroket, RI Kini Mulai Terancam

Market - MAIKEL JEFRIANDO, CNBC Indonesia
09 March 2022 10:20
Alamak AS 'Kepanasan'! Inflasi 7,5%, Tertinggi Sejak 40 Tahun

Jakarta, CNBC Indonesia - Dampak inflasi Amerika Serikat (AS) sudah terasa di tanah air. Kondisi akan semakin buruk, apalagi lonjakan inflasi AS dimungkinkan terus terjadi pasca meletusnya perang Ukraina dan Rusia.

Melansir CNBC internasional, Rabu (9/3/2022), inflasi yang tinggi kini telah mendorong kenaikan yield US Treasury 10 tahun sebesar 9 bps menjadi 1,84% dan UST 30 tahun naik 8 bps menjadi 2,2%.

Investor berpandangan yield UST akan terus naik seiring dengan semakin tingginya harga minyak dan gas akibat perang di Ukraina. Harga minyak saat ini sudah menembus US$ 130 per barel dan gas Eropa acuan Belanda tercatat Euro 241,01/megawatt hour.


Sehingga muncul kekhawatiran serius, sebab AS terancam stagflasi yang artinya inflasi melonjak namun perekonomian melambat.

Hal ini yang menjadi permasalahan bagi Indonesia. Kenaikan yield UST membuat investor kurang tertarik dengan Surat Utang Negara (SUN) yang diterbikan pemerintah Indonesia. Sehingga banyak investor meminta yield lebih tinggi.

Terlihat dalam realisasi lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Jumlah yang dimenangkan oleh pemerintah mencapai Rp 6,2 triliun, lebih rendah dari target indikatif yang ditetapkan pemerintah sebelumnya sebesar Rp 11 triliun. Jumlah yang dimenangkan pada lelang hari ini juga menjadi yang terendah sepanjang tahun 2022.

Adapun penawaran yang masuk (incoming bids) pada lelang hari ini hanya mencapai Rp 15,3 triliun, atau yang menjadi terendah sepanjang tahun ini.

Jumlah tersebut kurang dari setengah dari incoming bids yang masuk pada lelang Sukuk 22 Februari lalu yakni Rp 33,51 triliun.

Direktur Pembiayaan Syariah DJPPR Dwi Irianti Hadiningdyah mengatakan loyonya penawaran yang masuk pada hari ini disebabkan sikap wait and see investor. Investor memilih menunggu dan melihat kondisi pasca serangan Rusia ke Ukraina.

"Memang langsung ke hit banget karena pengaruh Rusia-Ukraina. Investor asing lebih memilih wait and see sementara investor domestik mengikuti (langkah) investor asing," tutur Dwi, kepada CNBC Indonesia, Selasa (8/3).

Seretnya minat investor asing terlihat dari incoming bids asing yang hanya mencapai Rp 2,8 triliun pada lelang Sukuk hari ini. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan bids asing yang masuk pada lelang Sukuk dua pekan lalu yakni Rp 7,7 triliun.

Dwi menambahkan Indonesia masih menawarkan appetite yang menarik buat investor, termasuk dari sisi prospek ekonomi ataupun stabilitas nilai tukar rupiah.

Imbal hasil Sukuk Indonesia juga terbilang masih menarik. Dalam catatan DJPPR, yield Sukuk seri PBS032 pada akhir Februari berada di kisaran 4,91% sementara pada awal Januari berada di 4,79%.

Dwi menambahkan pemerintah memutuskan hanya mengambil Rp 6,2 triliun dari bids yang masuk karena yield yang diminta investor terlalu tinggi.

"Kita kan harus lihat spread yield nya juga, disesuaikan dengan target kita. Saya rasa penurunan (bids) ini hanya temporer, ini akan membaik lagi," ujar Dwi.

Sebagai catatan, pada lelang pertama Sukuk pertama (11/1) bids yang masuk mencapai Rp 55,35 triliun sementara yang dimenangkan sebesar Rp11 triliun. Pada lelang kedua (25/1), bids yang masuk mencapai Rp 38,29 triliun sementara yang diambil Rp 11 triliun.

Bids anjlok pada lelang ketiga (8/2) yang hanya mencapai Rp 29,39 triliun sementara yang dimenangkan Rp 11 triliun. Pada lelang keempat dua pekan lalu, bids yang masuk mencapai Rp 33,51 triliun sementara yang menangkan sebesar Rp 9 triliun.

Menyusul sedikitnya jumlah Sukuk yang dimenangkan pada hari ini, pemerintah berencana melaksanakan lelang SBSN tambahan (Green Shoe Option) pada hari Rabu, 9 Maret 2022 pada pukul 09.00-10.00 WIB. Adapun seri yang ditawarkan adalah PBS031, PBS032, PBS029, PBS034, dan PBS033.

Pelaksanaan lelang tambahan (Green Shoe Option) dapat diikuti oleh Bank Indonesia, LPS dan/atau dealer utama yang menyampaikan penawaran pembelian dalam lelang SBSN tanggal 8 Maret 2022.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Duh Runyam! Inflasi AS Bikin Dunia Guncang, RI Kudu Waspada


(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading