Round Up Rupiah Februari

Asing 'Amankan' Duit di RI Saat Perang, Rupiah Perkasa!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
28 February 2022 14:15
Uang Edisi Khusus Kemerdekaan RI ke 75 (Tangkapan Layar Youtube Bank Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah mencatat kinerja yang bagus melawan dolar Amerika Serikat (AS) di bulan Februari, bahkan saat perang terjadi antara Rusia dengan Ukraina. Di pertengahan bulan ini rupiah bahkan sempat mencatat level penutupan terkuat di 2022 di Rp 14.255/US$.

Sayangnya dari level tersebut penguatan rupiah terus terpangkas, hingga mengakhiri bulan Februari di Rp 14.365/US$. Sepanjang bulan ini rupiah tercatat menguat hanya 0,1% saja.


Memanasnya tensi Rusia dan Ukraina yang juga melibatkan Amerika Serikat dan Negara Barat menjadi pemicu koreksi rupiah, hingga akhirnya pecah perang pada Kamis pekan lalu.

"Saya telah membuat keputusan operasi militer," kata Putin dalam pernyataan mengejutkan di televise sesaat sebelum pukul 6.00 pagi Kamis (24/2) waktu setempat.

Perang akhirnya berkecamuk di Ukraina hingga saat ini, dan AS beserta sekutu ramai-ramai memberikan sanksi ekonomi ke Rusia. Hal tersebut membuat sentimen pelaku pasar memburuk, dalam kondisi tersebut dolar AS uang menyandang status aset aman (safe haven) menjadi lebih diuntungkan.

Tetapi yang menarik, meski sentimen pelaku pasar global memburuk, tetapi investor asing justru mengalirkan modalnya ke Indonesia yang membuat nilai tukar rupiah terjaga.

Dari pasar saham, sepanjang pekan lalu investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) Rp 4,11 triliun di pasar reguler, nego dan tunai. Sementara dalam satu bulan net buy tercatat sebesar Rp 17,59 triliun.

Sementara itu di pasar obligasi, capital inflow dari data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, di mana sepanjang bulan ini hingga 23 Februari aliran modal asing masuk ke pasar obligasi cukup besar, sekitar Rp 11,6 triliun.

Capital inflow tersebut sekaligus membalikkan outflow sekitar Rp 4 triliun yang terjadi pada bulan Januari lalu. Dengan demikian sepanjang tahun ini (year-to-date) hingga 23 Februari lalu terjadi inflow lebih dari Rp 7 triliun di pasar obligasi.

Fundamental perekonomian Indonesia yang semakin membaik bisa jadi membuat investor asing terus mengalirkan modalnya ke Indonesia. Tidak seperti negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS) begitu juga negara-negara di Eropa, inflasi di Indonesia masih rendah.

Di bulan Januari, inflasi di Indonesia dilaporkan tumbuh 2,18% year-on-year (yoy), bandingkan dengan Amerika Serikat yang sebesar 7,5% (yoy).

Selain itu, ditopang kenaikan harga komoditas neraca perdagangan Indonesia mencetak surplus 21 bulan beruntun, dan membantu transaksi berjalan Indonesia membukukan surplus sebesar US$ 1,4 miliar atau 0,4% dari produk domestik bruto (PDB) di kuartal IV-2021, lebih rendah dari kuartal sebelumnya US$ 5 miliar (1,7% dari PDB) di tiga bulan sebelumnya.

Sepanjang 2021, surplus transaksi berjalan tercatat sebesar US$ 3,3 miliar (0,3% dari PDB). Kali terakhir transaksi berjalan mencatat surplus secara tahunan yakni pada 2011 lalu.

Transaksi berjalan menjadi faktor yang begitu krusial bagi pergerakan rupiah lantaran arus devisa yang mengalir dari pos ini cenderung lebih stabil.

Dengan surplus tersebut, stabilitas nilai tukar rupiah akan lebih terjaga yang bisa memberikan kenyamanan investor asing berinvestasi di dalam negeri. Kerugian akibat fluktuasi kurs bisa diminimalisir, begitu juga rendahnya inflasi.

Di tahun ini, transaksi berjalan memang diperkirakan akan kembali defisit, tetapi tidak akan sebesar sebelumnya.

Kemudian, pemerintah juga sudah menegaskan tidak akan lagi melakukan pengetatan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), sehingga roda perekonomian bisa berjalan lebih kencang.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Waspada Risiko 'Fall Of Kyiv' Bisa Bikin Rupiah Ambrol


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading