Sempat Cetak Rekor Tertinggi Baru, IHSG Merah di Ujung Sesi 1

Market - Arif Gunawan & Arif Gunawan, CNBC Indonesia
08 February 2022 12:19
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berayun ke zona merah pada penutupan perdagangan sesi pertama Selasa (8/2/2022), menyusul kabar turunnya cadangan devisa nasional.

Menurut data PT Bursa Efek Indonesia, IHSG berakhir di level 6.795,469 atau menguat 9,47 poin (-0,14%) pada pukul 11:30 WIB, Dibuka naik 0,12% ke 6.813,184, indeks acuan utama bursa ini sempat menjulang ke level tertinggi harian 6.860,75 pada pukul 09:17 WIB.

Namun selepas itu, IHSG cenderung tertekan hingga kemudian masuk ke zona merah dengan level terendah harian 6.780,417 dicetak pada pukul 10:55 WIB. Mayoritas saham melemah yakni sebanyak 267 unit, sementara 231 lain menguat, dan 174 sisanya flat.


Nilai perdagangan meningkat ke level Rp 7,95 triliun dengan melibatkan 16 miliaran saham yang berpindah tangan sebanyak 1 jutaan kali. Investor asing hari ini mencetak pembelian bersih (net buy), senilai Rp 589,78 miliar.

Saham yang mereka buru terutama adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dengan nilai pembelian bersih masing-masing sebesar Rp 395,2 miliar dan Rp 141,5 miliar. Keduanya menghijau masing-masing sebesar 1,59% dan 1,69% ke Rp 4.470 dan Rp 7.500/saham.

Sebaliknya, saham yang mereka jual terutama adalah PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dengan nilai penjualan bersih masing-masing sebesar Rp 79,6 miliar dan Rp 18,8 miliar. Keduanya bergerak berlawanan arah, dengan reli ASII sebesar 2,28% ke Rp 5.600 dan koreksi SMGR sebesar 0,69% menjadi Rp 7.175/saham.

Dari sisi nilai transaksi, saham BBRI dan ASII memimpin dengan total nilai perdagangan masing-masing sebesar Rp 998,9 miliar dan Rp 353,7 miliar, diikuti BBNI senilai Rp 286,2 miliar.

Koreksi IHSG terjadi di tengah pergerakan bursa Asia yang variatif, di mana indeks Hangseng Hong Kong anjlok 1,54% mengikuti indeks Shenzhen yang ambruk hingga 2,77% sementara Nikkei Jepang menguat 0,59% bersama KOSPI Korea Selatan yang naik 0,55%.

Aksi jual terjadi jelang pukul 10:00 WIB, di mana Bank Indonesia (BI) melaporkan penurunan cadangan devisa per akhir Januari 2022 sebesar US$ 3,6 miliar menjadi US$ 141,3 miliar.

"Penurunan posisi cadangan devisa pada Januari 2022 antara lain dipengaruhi oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan berkurangnya penempatan valas perbankan di Bank Indonesia antara lain sebagai antisipasi kebutuhan likuiditas valas sejalan dengan membaiknya aktivitas perekonomian," demikian tulis BI dalam keterangan resminya.

Cadangan devisa yang menurun itu kian memperburuk sentimen pasar yang aslinya sudah kecewa akibat PPKM effect kemarin. Cadangan devisa yang turun mengindikasikan berkurangnya amunisi bank sentral dan meningkatnya kebutuhan likuiditas dolar AS.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

IHSG Berayun ke Zona Merah, Tertekan 23 Poin di Akhir Sesi 1


(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading