Melesat 3 Hari Beruntun, dalam Seminggu Batu Bara Masih Loyo

Market - Tim Riset, CNBC Indonesia
06 February 2022 13:00
Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). Pemerintah memutuskan untuk menyetop ekspor batu bara pada 1–31 Januari 2022 guna menjamin terpenuhinya pasokan komoditas tersebut untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN dan independent power producer (IPP) dalam negeri. Kurangnya pasokan batubara dalam negeri ini akan berdampak kepada lebih dari 10 juta pelanggan PLN, mulai dari masyarakat umum hingga industri, di wilayah Jawa, Madura, Bali (Jamali) dan non-Jamali. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melesat dalam 3 hari terakhir pada pekan lalu. Ekspektasi tingginya permintaan membuat harga si batu hitam melesat.

Pada Jumat (4/2), harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) ditutup di US$ 206.6/ton. Melonjak 5,41% dari hari sebelumnya dan menyentuh titik tertinggi sejak 28 Januari 2022.

Ini membuat harga batu bara naik selama tiga hari beruntun. Selama tiga hari tersebut, harga melesat 7,32%.


Akan tetapi, secara minggu harga batu bara ternyata turun hingga minus 8,69%. Praktis, ini menjadi koreksi pertama setelah harga komoditas tersebut naik empat pekan berturut-turut.

Harga Batu Bara per 4 Februari 2022Foto: Refinitiv
Harga Batu Bara per 4 Februari 2022

Dari sisi fundamental, ada ekspektasi permintaan batu bara akan meningkat. Investor khawatir ketegangan di perbatasan Ukraina yang melibatkan Rusia akan membuat pasokan gas alam menjadi seret.

Rusia masih menyiagakan ratusan ribu pasukan di perbatasan Ukraina, yang membikin gerah Amerika Serikat (AS) dan sekutunya di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Presiden AS Joseph 'Joe' Biden akhirnya menggerakkan 'bidak catur'. Biden memerintahkan hampir 3.000 pasukan Negeri Adidaya ke Eropa Timur dalam upaya menggertak Rusia.

Jika sampai meletus perang di Ukraina yang melibatkan Rusia (amit-amit), maka dampaknya akan sangat luar biasa. Eropa sangat bergantung kepada pasokan gas dari Eropa, yang pipanya melewati Ukraina. Sekitar 35% kebutuhan gas Benua Biru datang dari Negeri Beruang Merah.

Saat terjadi konfrontasi bersenjata, tentu pasokan gas ini bakal terganggu. Agar pembangkit listrik tetap bisa beroperasi, dibutuhkan sumber energi pengganti, dan itu adalah batu bara. Ketika pasokan gas seret, maka batu bara akan menjadi pilihan sehingga permintaan naik dan harga ikut terungkit.

Pada Januari 2022, impor batu bara Uni Eropa tercatat 10,8 juta ton. Melonjak 55,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Pada Desember 2021, impo batu bara Uni Eropa melesat 35,1% yoy.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Atasi Krisis Energi, China Lepas Stok Batu Bara Australia


(adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading