Bursa Asia Dibuka Mixed Lagi, Hang Seng Lompat, Nikkei Loyo

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
04 February 2022 08:40
A man in a business building is reflected on an electronic stock quotation board outside a brokerage in Tokyo, Japan, October 11, 2018.  REUTERS/Kim Kyung-Hoon

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia dibuka cenderung bervariasi pada perdagangan Jumat (4/2/2022), di tengah terkoreksinya bursa saham Amerika Serikat (AS) setelah selama empat hari beruntun mengalami penguatan.

Indeks Hang Seng Hong Kong dibuka menguat 2,04% dan KOSPI Korea Selatan menguat 0,2%.

Sedangkan untuk indeks Nikkei dibuka melemah 0,52% dan Straits Times Singapura (STI) turun tipis 0,02%.


Sementara untuk indeks Shanghai Composite China masih ditutup karena masih adanya libur panjang Imlek.

Dari Korea Selatan, data inflasi periode Januari lalu telah dirilis pada hari ini di mana inflasi mendekati level tertinggi dalam satu dekade karena melonjaknya harga bahan bakar dan makanan.

Inflasi dari sisi konsumen (Indeks Harga Konsumen/IHK) Negeri Ginseng pada bulan lalu naik menjadi 3,6% secara tahunan (year-on-year/YoY), lebih tinggi dari perkiraan ekonom dalam polling Reuters yang memperkirakan kenaikan 3,3% dan di atas target bank sentral yakni 2% untuk 10 bulan berturut-turut.

Sedangkan inflasi inti, yang tidak termasuk biaya makanan dan bahan bakar melonjak 2,6% dari tahun sebelumnya, tercepat sejak Desember 2015, menandakan bahwa lonjakan harga bahan bakar dan bahan baku lainnya telah mendorong biaya layanan yang lebih tinggi untuk barang dan jasa.

Bursa Asia yang cenderung bervariasi terjadi di tengah kembali terkoreksinya bursa AS, Wall Street pada penutupan perdagangan Kamis kemarin waktu setempat, setelah selama empat hari beruntun mengalami penguatan.

Indeks Dow Jones ditutup ambles 1,45% ke level 35.111,16, S&P 500 ambruk 2,44% ke 4.477,33, dan Nasdaq yang kaya akan teknologi anjlok 3,74% ke posisi 13.878,82.

Investor yang sebelumnya sempat optimis bahwa emiten teknologi besar berhasil membukukan kinerja keuangan yang kuat pun memudar setelah perusahaan penyedia media sosial Facebook dan Instagram yakni Meta Platforms melaporkan kinerja kuartalan yang mengecewakan.

"Facebook merupakan [saham] pembangun kepercayaan," kata JJ Kinahan, kepala strategi pasar di TD Ameritrade, dilansir CNBC Internasional.

Saham Meta Platforms anjlok 26,4%, setelah perusahaan melaporkan laba kuartalan di bawah ekspektasi. Perusahaan juga mengeluarkan proyeksi pendapatan yang lebih lemah dari perkiraan untuk kuartal saat ini.

Emiten media sosial lainnya juga mengalami nasib serupa dengan Meta. Saham Snapchat turun 23,6%, dan Twitter turun 5,5%.

Penghasilan yang kuat dari Microsoft, Apple, dan Alphabet mendorong investor kembali mengoleksi teknologi, mengingatkan mereka bahwa fundamental masih kuat. Tetapi proyeksi Meta Platform yang lemah telah menyebabkan beberapa investor memilih untuk berbalik arah.

Selain laporan keuangan emiten teknologi besar di AS, beberapa hal lain yang ikut mewarnai perdagangan hari kamis di New York termasuk harga minyak AS yang mencapai US$ 90 per barel untuk pertama kalinya sejak 2014, menambah kekhawatiran tentang inflasi.

Di sisi data ekonomi, klaim tunjangan pengangguran AS pekan lalu diumumkan mencapai 238.000 atau lebih baik ketimbang hasil poling Dow Jones yang memproyeksikan penurunan klaim menjadi 245.000 dari angka sepekan sebelumnya 260.000.

Kemarin, Automatic Data Purchasing (ADP) merilis data slip gaji baru yang terpangkas 301.000 di Januari atau berbalik dari ekspektasi ekonom dalam polling Dow Jones yang memperkirakan tambahan sebanyak 200.000.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bursa Asia Dibuka Menguat, Hang Seng Merosot Sendirian


(chd/chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading