IHSG Berbalik Melemah, Tertekan 0,4% di Penutupan Sesi 1

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
03 February 2022 12:06
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah ke zona merah hingga penutupan perdagangan sesi pertama Kamis (3/2/2022), di tengah peningkatan kasus Omicron yang mulai membentuk gelombang ketiga.

Menurut data PT Bursa Efek Indonesia, IHSG berakhir di level 6.680,682 atau surut 26,97 poin (-0,4%) pada pukul 11:30 WIB, Dibuka naik 0,25% ke 6.724,339, indeks acuan utama bursa ini hanya beberapa menit mencicipi zona hijau.

Level penutupan tertinggi dicapai pada 6.730,598 tepat pukul 09:00 WIB, dan selanjutnya berbalik melemah hingga menyentuh level terendah hariannya pada 6.648,078 pukul 10:10 WIB. Mayoritas saham tertekan sebanyak 289 unit, sedangkan 212 lain menguat, dan 163 sisanya flat.


Nilai perdagangan kembali surut ke level Rp 6,4 triliun dengan melibatkan 14 miliaran saham yang berpindah tangan sebanyak 1 jutaan kali. Investor asing hari ini mencetak pembelian bersih (net buy), senilai Rp 86,72 miliar.

Saham yang mereka buru terutama adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai pembelian bersih masing-masing sebesar Rp 173 miliar dan Rp 34,2 miliar. Keduanya bergerak berlawanan arah dengan lompatan BBRI sebesar 1,97% ke Rp 4.150 sedangkan BBCA melemah 0,64% ke Rp 7.750/saham.

Sebaliknya, saham yang mereka jual terutama adalah PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) dengan nilai penjualan bersih masing-masing sebesar Rp 22,3 miliar dan Rp 20,2 miliar. Keduanya drop, masing-masing sebesar 2,23% dan 1,05% menjadi Rp 20,850 dan Rp 3.760/saham.

Dari sisi nilai transaksi, saham BBRI dan PT Bank Jago Tbk (ARTO) memimpin dengan total nilai perdagangan masing-masing sebesar Rp 417,9 miliar dan Rp 311,7 miliar, diikuti PT Berkah Beton Sadaya Tbk (BEBS) senilai Rp 194,3 miliar.

Selama sepekan terakhir kasus Covid-19 harian terus mengalami kenaikan, misalnya pada Selasa kemarin yang mencapai 16.021 kasus. Angka tersebut naik dari 10.185 kasus pada 31 Januari 2021. Dalam sepekan terakhir hanya pada tanggal 31 Januari 2021 terjadi penurunan dari hari sebelumnya yakni 12.422 kasus.

Kondisi pandemi yang memburuk menjadi sentimen negatif untuk pasar terutama aset-aset berisiko tinggi seperti saham. Apalagi indeks sudah melesat signifikan kemarin sehingga rawan terjadi aksi ambil untung yang menekan harga.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

IHSG Berayun ke Zona Merah, Tertekan 23 Poin di Akhir Sesi 1


(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading