Libur Imlek Bitcoin dkk Cerah Bergairah, Terra Meroket

Market - chd, CNBC Indonesia
01 February 2022 11:16
FILE PHOTO: Representations of the Ripple, Bitcoin, Etherum and Litecoin virtual currencies are seen on a PC motherboard in this illustration picture, February 13, 2018. Picture is taken February 13, 2018. REUTERS/Dado Ruvic/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mayoritas cryptocurrency terpantau cerah bergairah pada Selasa (1/2/2022) waktu Indonesia, karena investor menilai bahwa bulan Februari merupakan bulan yang positif bagi pasar kripto.

Melansir data dari CoinMarketCap pada pukul 10:00 WIB, kesepuluh kripto berkapitalisasi pasar di atas US$ 18 miliar kompak menghijau pada hari ini.

Bitcoin melesat 2,59% ke level harga US$ 38.558,1/koin atau setara dengan Rp 554.465.478/koin (asumsi kurs Rp 14.380/US$), Ethereum melonjak 4,65% ke level US$ 2.687,26/koin atau Rp 38.642.799/koin.


Selanjutnya Binance Coin (BNB) menguat 2,82% ke US$ 384,22/koin (Rp 5.525.084/koin), Solana melompat 5,61% ke US$ 97,69/koin (Rp 1.404.782/koin), dan Terra meroket 9,75% ke US$ 51,41/koin (Rp 739.276/koin).

Berikut pergerakan 10 kripto besar berdasarkan kapitalisasi pasarnya pada hari ini.

Kripto

Mengawali perdagangan di bulan Februari, Bitcoin dan kripto lainnya mulai kembali pulih setelah sepanjang Januari lalu sempat berfluktuasi tetapi secara mayoritas terkoreksi.

Bitcoin pun berhasil menguat ke kisaran level US$ 38.000 pada pagi hari ini, setelah sehari sebelumnya sempat terkoreksi kembali ke kisaran level US$ 36.000. Padahal pada perdagangan akhir pekan lalu, Bitcoin sempat bertahan di kisaran level US$ 37.000.

"Bitcoin mulai kembali pulih karena pasar saham global telah menyelesaikan koreksinya menjelang perdagangan akhir Januari, di mana pada perdagangan terakhir di bulan Januari pasar saham global mencatatkan kinerja positif," kata Edward Moya, senior analis di Oanda, dalam laporan riset hariannya.

"Momentum bullish Bitcoin perlahan-lahan meningkat dan kedepannya bisa lebih melenggang ke atas jika dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah karena pengetatan bank sentral AS untuk tahun ini mulai diperhitungkan," tambah Moya.

Sementara itu, Dune Analytics melaporkan volume perdagangan kripto di bursa terdesentralisasi (decentralized exchanges/DEX) pada Januari 2022 mencapai US$ 100 miliar atau sekitar Rp 1.438 triliun.

Total volume perdagangan di DEX sebelumnya sempat turun secara signifikan setelah mencapai puncaknya pada Mei lalu. Tetapi dalam beberapa bulan terakhir, volume perdagangan kripto kembali pulih.

Naiknya volume perdagangan kripto pada Januari kemungkinan dipengaruhi oleh volatilitas pasar kripto dan 'drama' dalam beberapa protokol desentralized finance (DeFi), namun beberapa analis mengatakan bahwa volume yang terus tumbuh menunjukkan "pertumbuhan baru" di sektor DeFi.

"Eksekusi yang memiliki kemampuan luar biasa untuk protokol ini dan berjalan tanpa gangguan bahkan di tengah permasalahan dari pendiri atau pengembang DeFi menjadi fokus perhatian investor," kata Jeff Dorman, kepala investasi di perusahaan pengelola investasi kripto Arca, dikutip dari CoinDesk.

"Ekosistem kripto makin berkembang pesat meskipun masih ada potensi penipuan, peretasan, dan tindak kejahatan lainnya di industri kripto," tambah Dorman.

Secara historis, bulan Februari merupakan bulan yang positif bagi pasar kripto, di mana Bitcoin pada Februari selalu menghasilkan return positif, yang dapat menawarkan beberapa harapan bagi para trader penganut bullish.

Secara teknikal di Bitcoin, trader jangka pendek dapat tetap aktif di sekitar zona support US$ 35.000-US$ 37.000, meskipun kenaikan tampaknya terbatas menuju US$ 45.000.

Meski ada kemungkinan Bitcoin dan kripto lainnya cenderung cerah pada Februari, tetapi beberapa analis masih skeptis karena mereka menilai bahwa risiko dari makroekonomi dan tindakan keras regulator masih cukup tinggi.

"Kekhawatiran regulasi muncul ketika pemerintahan Biden bersiap untuk mengeluarkan perintah eksekutif pada bulan Februari untuk mengatur bitcoin sebagai masalah keamanan nasional," kata Marcus Sotiriou, analis di broker aset digital Global Block yang berbasis di Inggris, dilansir dari CoinDesk.

"Sulit untuk memprediksi apakah perintah eksekutif ini akan berdampak positif atau negatif pada industri kripto," tambah Sotiriou.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bitcoin dkk Bangkit! Ethereum-Solana Meroket, Ada Apa?


(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading